Chapter 7 - Kidnaped
The New Me
Chapter 7 – Kidnaped
Tidak diketahui pukul berapa, dan dimana
Hangat tapi
gelap. Itulah hal pertama yang aku rasakan. Aku tidak tahu apa yang sudah
terjadi padaku. Semuanya terasa begitu cepat dan rumit, aku bahkan belum bisa
mengerti secara keseluruhan. Aku hanya mengerti sebagian, itu juga masih ada
bagian yang buram dan samar-samar. Jujur, aku lelah. Aku capek. Aku sudah tidak
tahan untuk menjalani semua hal ini. Aku ingin kembali menjadi anak perempuan
biasa yang selalu tersenyum.
Aku pun mencoba
membuka mataku. Samar-samar terlihat cahaya terang di hadapanku. Begitu mataku
benar-benar terbuka, aku pun sadar kalau aku berada di depan perapian. Aku
segera memperbaiki posisi dudukku. Tapi sayang, tanganku diikiat ke belakang
sehingga aku harus berusaha keras untuk dapat memperbaiki posisi duduk.
Aku mulai
mengamati sekeliling, mencoba mencari tahu di mana aku berada saat ini. Dan yang
kulihat hanyalah satu kursi tua di sudut ruangan, sebuah perapian, dan satu
buah pintu. Ruangan ini tampak sangat sempit. Maka dari itu tidak terlalu
banyak perabot di sini.
Tap, tap, tap,
tap…. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki seseorang. Suara itu terdengar
semakin lama semakin keras. Semakin lama semakin jelas. Jantungku mulai
berdetak tak beraturan. Nafasku juga tak teratur. Siapakah orang yang melangkah
di balik pintu itu? Apakah dia yang akan menolongku? Atau, dia yang akan
membunuhku?
Dan, pintu tua
itu pun terbuka perlahan. Suara berdecit dari pintu itu terdengar melengking
hebat. Aku menoleh ke pintu itu. Aku ingin melihat siapa wajah yang ada di
balik pintu itu.
“Alois?!” aku
berucap senang. Alois menatapku sambil tersenyum.
“Hai, Lizzy!”
sahutnya sambil berjalan dengan angkuh. Aku terdiam. Aku merasa kalau ada yang
salah dengan Alois.
Alois berjalan
mendekati tubuhku. Ia berjongkok, lalu melepaskan ikatan di tanganku. Aku
mengamati raut wajahnya. Aneh, ia tampak sangat santai, seperti tidak ada yang
terjadi.
“Terima kasih,”
jawabku begitu ia selesai melepaskan ikatanku. Alois segera berdiri, lalu
memberi senyuman sinis.
“Jangan
berterima kasih padaku!” ujar Alois dengan nada dingin. “Aku bukan ingin
menyelamatkanmu, bodoh!” sahutnya tajam. Aku terkejut begitu mendengar ucapan
Alois.
“A, apa
maksudmu?” tanyaku dengan wajah kebingungan.
“AKU TIDAK AKAN
MENYELAMATKANMU!” teriak Alois keras.
“AAAAAAAAAKKHH!!”
aku menjerit hebat. Tak kusangka, Alois akan memukul wajahku. Aku pun terlempar
dan terjatuh tepat di depan perapian. Hampir saja aku masuk ke dalam perapian
itu. Aku meringis kesakitan. Pipiku terasa sakit sekali. Aku pun mencoba untuk
tetap bangkit.
“Ke… Kenapa,
Alois?” tanyaku dengan suara lirih. Alois berdiri di hadapanku.
“Seperti yang
kau tahu, aku ingin memusnahkan Ciel!” ucap Alois sinis.
“AAAAKKHH!!!”
aku kembali menjerit, tapi kali ini terdengar lebih lirih. Alois kembali
memukulku. Aku pun terhempas dan menabrak kursi tua di sudut ruangan. Dahiku
membentur kursi tua itu. Dan cairan merah itu pun mulai mengalir, dari dahiku
lalu turun mengenai mata kananku. Warnanya merah pekat dan terasa kental.
Tubuhku pun gemetar menahan rasa sakit yang aku derita.
“Ta…. Tapi…
Kenapa aku?” tanyaku pelan dengan suara gemetar. Aku mencoba memperbaiki
posisiku, dan menatap tajam mata Alois.
“Karena kamu
adalah umpan yang baik untuk memanggilnya!” sahut Alois dengan nada yang
semakin dingin. “Jadi yang kubutuhkan adalah…. Jeritanmu!” seru Alois.
Tangannya mengepal, siap memukulku lagi.
Hap! Aku
berhasil menangkis pukulan Alois. Alois terkejut. Aku menatap mata Alois
dalam-dalam. Dan tak beberapa lama, aku memberikan senyuman sinis. Sama seperti
yang ia berikan padaku sejak tadi.
“Akan
kupastikan, rencanamu itu gagal!” sahutku dengan nada angkuh. Alois sedikit
terbelalak. Tak beberapa lama, ia kembali tersenyum sinis.
Pertarungan
hebat pun tak dapat terelakan. Ya, di ruangan yang sempit itu, sebuah
pertarungan amat seru sedang terjadi. Hanya ada aku dan Alois. Ya, hanya kami
berdua. Tapi pertarungan ini tampak sangat ganas.
Dengan langkah
kaki yang tertatih-tatih, aku mencoba mengimbangi kemampuan bertarung Alois.
Nafasku tak teratur. Keringat sudah bercucuran kemana-mana. Luka dan darah juga
sudah mewarnai tubuhku. Aku sudah tidak mengenali diriku lagi. Aku yang tadinya
hanya seorang gadis imut, kini berubah menjadi gadis ganas. Aku yang tadinya
anak baik, sekarang menjadi anak yang bisa dibilang jahat. Entahlah. Aku sudah
muak dengan semua ini. Yang harus aku lakukan saat ini hanyalah, tetap
melangkah maju.
Aku dan Alois
sama-sama mengerahkan seluruh tenaga kami. Alois beberapa kali terjatuh karena
terkena pukulanku. Lukanya juga sudah semakin parah saat ini. Begitu pula
denganku. Aku lebih sering terjatuh daripada Alois. Lukaku juga sangat parah
dan terasa sangat sakit bagiku.
BRUUUK!! Aku
terhempas ke tanah. Sakit. Sakiiitt sekali rasanya. Aku tak kuat lagi berdiri.
Aku sudah diambang batas. Aku kehabisan tenaga untuk kembali bangkit dan
melawan Alois. Dan sekarang, aku hanya bisa meringkuk menahan sakit. Aku
mencoba untuk mengatur nafasku. Meskipun aku belum juga bisa mengatur nafasku
dengan benar, tapi sekarang, terasa lebih baik.
Tiba-tiba, Alois
menginjak-injak tubuhku. Aku yang tak tahu akan menjadi seperti itu hanya bisa
diam dan mengerang-erang kecil. Aku hanya bisa meringkuk dan menahan sakit yang
datang dengan bertubi-tubi.
“KENAPA!!!!”
erang Alois tiba-tiba. Tapi ia belum berhenti menginjakku. “Kenapa kalian
berdua selalu disayangi semua orang! Ciel sangat disukai dan disegani oleh
semua orang! Sebastian selalu ada di sisinya! Sebastian selalu melindungi Ciel!
Sebastian selalu berada bersamanya! Dan, kamu! Semua orang sangat menyayangi
kamu! Semua orang sangat perhatian kepadamu! Semua orang menyukaimu!! Kenapa??
Kenapa tidak ada yang menyayangi aku?? Kenapa tidak ada yang menyukaiku??
Kenapa semua orang membenciku?? Kenapa??” erang Alois dengan suara putus asa.
Tiap kata yang keluar dari mulutnya sangat dipenuhi oleh emosinya yang kian membara.
“Aku menyukaimu,
Alois! Aku tidak membencimu! Aku menyayangimu! Aku mencintaimu!” ucapku dengan
suara lembut. Entah mengapa, air mataku tiba-tiba mengalir di wajahku.
Alois terdiam.
Ia berhenti menginjak tubuhku. Titik-titik air mata Alois mulai berjatuhan dan
membasahi tubuhku. Alois tak kuat lagi berdiri. Ia pun berlutut tepat di
belakangku sambil menunduk. Aku pun mencoba untuk bangkit dan duduk berhadapan
dengan Alois. Aku mengamati raut wajah Alois. Ia tampak sangat terisak
mendengar perkataanku barusan.
“Kenapa? Kenapa,
kamu mengatakan hal seperti itu?” tanya Alois dengan nafas yang belum teratur.
Aku tersenyum.
“Karena itulah
yang dikatakan hatiku!” sahutku dengan suara lebih lembut.
Alois terbelalak
begitu mendengar jawaban yang keluar dari bibirku. Tangisnya pun terdengar
semakin menyayat hati. Sepertinya, jawabanku tadi sangat berpengaruh baginya.
Jujur, aku tidak begitu mengerti bagaimana perasaan Alois yang sebenarnya. Tapi
aku tahu, aku harus menjadi penyemangat baginya.
“Sudahlah, kamu
tidak harus menangis begitu! Aku ada di sini, kok! Aku akan selalu
menyayangimu!” jawabku menghibur. Alois terdiam, tidak memberikan jawaban
apa-apa. “Sudahlah, Alois! Jangan menangis! Aku tahu perasaanmu. Dan kumohon,
mengertilah, Alois!” ujarku mengikuti gaya bicara Kak Edward.
Alois mulai
menghapus air matanya. Perlahan-lahan, ia mulai mengatur nafasnya. Alois menoleh
ke arahku. Ia menatap mataku dengan tatapan penuh syukur. Meskipun matanya
masih terlihat sembab, namun senyumnya sudah merekah di bibirnya.
“Terima kasih
sudah berkata demikian. Terima kasih karena sudah bersikap terlalu baik bagiku.
Itu sangat membantu,” ucap Alois pelan. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman.
“Tapi, maaf! Aku tetap harus memusnahkan Ciel!” sahut Alois tajam.
Tiba-tiba, Alois
meraih tanganku dan menarikku ke kursi tua di sudut ruangan. Ia mendorongku
pelan, sehingga aku duduk di atas kursi tua itu. Dengan sigap, Alois segera
melilitkan sebuah tali agak panjang di tubuhku.
“Apa yang sedang
kamu lakukan, Alois?” tanyaku bingung.
“Mengikatmu,
bodoh!” jawab Alois yang tetap sibuk dengan talinya.
“Untuk apa?” aku
kembali bertanya.
“Untuk memancing
Ciel dan agar kau tidak lari, bodoh!” sahut Alois dengan nada yang sama.
“Ingin kau
apakan Si Ciel itu?” tanyaku lagi dan lagi.
“Akan
kumusnahkan dia!” jawab Alois singkat.
“Kenapa?”
tanyaku lagi, tapi kali ini jauh lebih singkat.
“Ada masalah
pribadi yang harus kuselesaikan. Kau tidak akan mengerti!” sahut Alois. Ia
masih sibuk dengan talinya.
“Ya, ada satu
saran dariku,” ucapku yakin. “Ciel sudah berubah menjadi iblis sekarang. Kamu
tidak akan mungkin memusnahkan dia. Dia pasti sangat kuat,” ujarku menjelaskan.
Alois tersenyum.
“Ya, sepertinya
kau sudah tahu!” jawab Alois sambil membuat simpul pada tali yang mengikatku.
“Tapi, aku pasti akan memusnahkannya!” sahut Alois dengan lebih mantap.
“Dia itu iblis,
Alois! Kamu tidak akan bisa memusnahkannya!” balasku dengan sedikit memaksa.
“Ya, kecuali
jika aku… Iblis juga!” Alois menyahut dengan dingin. Aku tersentak begitu
mendengar ucapannya.
“A, apa?? Ja,
jadi kamu??” aku berkata tergagap. Alois tersenyum ke arahku dan mengangguk.
“Sekarang, kau
tahu itu!” ujar Alois dengan senyuman yang mirip Sebastian. “Bersiaplah, Ciel
akan segera datang!” sahutnya memberikan perintah kepadaku.
“Baik,” jawabku
ringan. Aku pun terdiam sambil menunduk, mengikuti perintah Alois.
“Ngomong-ngomong,
Claude di mana?” aku kembali bertanya. Alois mendesah sedikit lalu menjawab
pertanyaanku.
“Dia sedang
melakukan hal lain,” jawab Alois singkat. “Sekarang, diamlah! Ciel akan
datang!” perintah Alois. “Tidak usah dijawab!” sergap Alois cepat.
Aku menutup
mulutku rapat-rapat dan kemudian menunduk. Beberapa saat kemudian, aku kembali
dilingkupi oleh khayalanku yang tak berujung. Aku sudah bisa merelakan Ciel.
Aku juga sudah mulai melihat masa depanku yang terbentang luas. Aku kini sudah
mengerti, bagaimana harus menanggapi kepergian Ciel. Tapi yang aku belum bisa pahami
adalah, bagaimana akhir dari hari yang sangat melelahkan ini? Apakah aku akan
berhasil keluar dari situasi yang aneh ini? Atau, apakah aku akan mati di
ruangan sempit ini?
Kreeeeeekk…
Decitan pintu tua itu berhasil membuatku keluar dari dunia khayalku. Aku
menoleh ke arah pintu itu. Dengan detak jantung yang seribu kali lebih cepat,
aku menantikan orang yang membuka pintu itu.
“CIEL?!” aku
terbelalak begitu melihat orang yang melewati pintu itu. Ternyata benar kata
Alois. Ciel akan datang.
“Hai, Lizzy!”
jawab Ciel dengan suara khas-nya. Ia memakai pakaian serba hitam. Penutup
matanya masih menghiasi wajahnya. Topi berwarna hitam bertengger anggun di
kepalanya. Matanya yang tadinya berwarna biru nan indah, kini berubah menjadi
warna merah terang.
“Akhirnya datang
juga!” sahut Alois dengan tatapan dingin.
“Kenapa?
Merindukanku?” tanya Ciel dengan suara lebih dingin. Ia menutup pintunya, lalu
melangkah mendekati aku dan Alois.
“Rencana yang
hebat! Memancingku keluar dengan berkerja sama dengan Angela. Ide bagus!” ujar
Ciel sambil tetap melangkah.
“Ya, begitulah!
Rencananya, yang ada padamu akan menjadi milikku dan anak ini akan menjadi
milik Angela,” jawab Alois menjelaskan.
“Aku sudah tahu
itu! Tidak usah dijelaskan lagi!” balas Ciel dengan tatapan membunuh.
“A, apa yang
kalian bicarakan?” tanyaku tak mengerti. Mereka berdua segera tersenyum dan
menoleh ke arahku.
“Urusan
pribadi!” jawab mereka bersamaan. Aku yang mendengarnya lalu terdiam dengan
wajah masih bingung.
“Aku akan
mendapatkannya, Ciel! Ingat itu!” seru Alois mengancam.
“Ya! Akan
kupastikan kau gagal!” sahut Ciel dengan tatapan mematikan.
Dan, pertarungan
hebat kembali terjadi. Alois dan Ciel saling menyerang. Mereka berdua tampak
sangat menyeramkan. Mata mereka memancarkan aura membunuh. Tubuh mereka
melenggak-lenggok dengan gesit, seperti sedang menari. Mereka berdua
berloncatan ke sana ke mari. Benar-benar pertarungan yang sangat mendebarkan.
Entah kenapa,
kepalaku terasa pusing sekali. Ruangan itu terlihat berputar-putar tak tentu
arah. Pandanganku semakin buyar. Keringat dingin mengalir deras. Jantungku juga
berdetak seribu kali lebih cepat dari sebelumnya.
“Lizzy!!!”
sayub-sayub terdengar erangan Ciel.
“Ciel…” jawabku
lemah.
“Jangan ikuti
perintahnya, Lizzy! Apa pun yang kau dengar, apa pun yang kau lihat, jangan
pernah ikuti perintahnya!! Itu adalah sebuah jebakan, Lizzy!” suara Ciel
terdengar semakin pelan.
“Ciel…” aku
menjawab dengan kata yang sama.
Tiba-tiba,
ruangan itu berputar semakin cepat. Semakin cepat. Dan sangat cepat. Pandanganku
semakin memburuk. Aku tidak bisa melihat Ciel dan Alois. Aku juga tidak bisa
melihat ruangan itu lagi. Aku hanya bisa melihat…. Kegelapan.
***
Komentar
Posting Komentar