Chapter 9 - Done


The New Me
Chapter 9 – Done
Arcanum
Waktu tak penting lagi bagiku
Tenang. Tenang. Tenang. Entah kenapa, perasaanku saat ini sangatlah tenang. Semua petualangan yang telah kujalani, rasanya sudah menghilang dari kisah hidupku. Rasanya, segalanya sudah berakhir. Meskipun dengan sebuah akhir yang menggantung.
Aku mencoba membuka mataku perlahan. Samar-samar, aku melihat wajah seorang laki-laki. Begitu aku membuka mataku benar-benar, tampaklah sosok laki-laki itu. Sosok yang sangat anggun. Sosok yang diam. Sosok yang sudah lama kunantikan.
“Ciel…” aku bergumam kecil. Ciel segera menoleh ke arahku.
“Kamu sudah bangun!” Ciel menjawab dengan nada agak hangat. Aku hanya mengangguk kecil.
Entah kenapa, aku kembali terjebak dalam lamunanku. Ciel, seseorang yang sangat aku rindukan, kini bisa begitu dekat denganku. Orang yang sudah lama menghilang dariku, kini bisa berada di hadapanku. Doaku terjawab. Ya, doaku terjawab pada waktu yang tepat. Orang yang sekian lama kucari-cari kini sedang berjalan di depanku, sambil… Menggendongku?? Aduh, aduh…
“Ciel…” entah kenapa aku memanggil namanya.
“Ya??” tanya Ciel sambil menoleh ke arahku.
“Mmm.. Aku berat, lho!” ucapku yang hampir salah tingkah.
“Lizzy, sekarang aku jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya!” jawab Ciel angkuh, tapi tetap hangat.
“Iya, iya… Sekarang sombong!!” aku mengoceh kecil.
“Lizzy… Kamu belum juga berubah!” ucap Ciel sambil tersenyum. Aku hanya diam dan tersenyum.
Aku kembali terdiam, berusaha mengingat-ingat sesuatu. Aku rasa, ada satu hal yang tertinggal di sini. Ada yang mengganjal. Ada satu hal yang terlupakan olehku.
Oh, iya! Kak Edward!! Di mana dia sekarang? Bukankah, dia bekerja sama dengan Ciel untuk menjagaku. Tapi, kenapa Ciel sendiri ada di depanku? Di mana Kak Edward??!
“Ciel!!!” aku kembali menyebutkan namanya, tapi kali ini dengan raut agak panik.
“Kenapa?” Ciel kembali menoleh.
“Mmm… Kamu tahu di mana Kak Edward?” tanyaku langsung saja. Ciel terdiam sejenak. Tak lama kemudian, ia melemparkan senyuman ke arahku.
“Itu di belakang!” sahut Ciel sambil menggerakkan kepalanya, menunjukkan posisi Kak Edward.
Tanpa menunggu lama, aku pun segera menoleh ke belakang Ciel. Dan benar saja, Kak Edward sedang berjalan sambil tersenyum, memandangi indahnya pepohonan dan cahaya hangat matahari. Sungguh, senyuman itu merupakan senyuman Kak Edward yang sangat langka. Tak biasanya ia terlihat begitu damai.
“Hai, Lizzy!” sahut Kak Edward begitu tersadar kalau aku mengamatinya sejak tadi.
“Hai, Kak Edward…” balasku dengan suara lembut. Tak lama kemudian, aku kembali kepada posisi awalku.
“Kita berjalan ke mana, Ciel?” tanyaku ramah.
“Ke Midford Manor!” sahut Ciel tanpa menoleh. Aku mengangguk kecil.
Mendengar kata ‘Midford Manor’ membuatku teringat akan keluargaku. Ayah dan ibu. Aku jadi merindukan mereka berdua. Senyuman mereka. Kehangatan yang mereka berikan kepadaku. Membuatku semakin ingin memeluk erat mereka.
Apalagi, hari ini adalah hari di mana aku berada sangat dekat dengan orang tuaku. Mereka kini menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Mereka sangat berarti. Setelah sekian lama aku berusaha melarikan diri dari mereka, aku kini mulai mengerti apa arti mereka dalam hidupku. Aku memang sangat lambat untuk memahami suatu hal, apalagi hal ini. Namun aku sangat bersyukur karena akhirnya aku bisa mengerti.
“Ciel...” aku kembali memanggil namanya, entah untuk apa.
“Iya??” tanya Ciel yang mencoba tetap sabar.
“Se, sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Kenapa… Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku tanpa memandang matanya. Ciel tak langsung menjawab. Ia terdiam untuk beberapa saat.
 “Permasalahan yang panjang…” Ciel menjawab menggantung dengan suara sedingin es. Nafasnya terdengar agak berat saat ia mengucapkan kata-kata itu. Aku menatap wajah Ciel, menantikan kelanjutan kalimatnya. Namun, Ciel malah terdiam jauh lebih lama. Itu cukup membuktikan kalau jawabannya sudah selesai terucap.
“Ada sebuah benda yang sangat penting. Benda itu seperti emas, kecil tapi sangat berharga. Bentuk benda itu bulat sempurna, namun memancarkan sinar berwarna biru nan indah. Benda itu sangatlah berharga…” Ciel tiba-tiba melanjutkan kalimatnya. Ia pun terdiam lagi, berusaha mengatur nafasnya agar suaranya tidak bergetar.
“Benda itu ada di tanganku sekarang. Dan Alois…. Dia mencoba merebutnya dariku… Tentu saja aku akan melindungi benda itu dari Alois. Aku tidak akan menyerahkan benda itu kepada siapa pun, terutama Alois. Apalagi kalau benda itu…. Membuktikan kalau aku adalah Iblis terkuat,” Ciel menjawab panjang. Aku tersentak begitu mendengar kalimat terakhirnya.
Ciel adalah Iblis terkuat? A, apa?? Bagaimana caraku membawa Ciel kembali kepada terang bila ia sendiri adalah Iblis terkuat?? Tidak!!
“A, aku tidak mengerti, Ciel… Kamu adalah Iblis terkuat?? Ta, tapi bagaimana? Bagaimana caramu mendapatkan benda itu, Ciel?” aku bertanya bertubi-tubi. Ciel terdiam dahulu, sebelum ia menjelaskan semuanya.
“Sebenarnya, benda itu sudah dimiliki oleh keluargaku secara turun-temurun. Aku saja yang terlambat menyadarinya. Dan… Kebakaran yang terjadi di rumahku dulu, adalah salah satu siasat Alois untuk mengambil benda itu. Ia memang berhasil membunuh kedua orang tuaku, namun ia gagal mengambil benda itu. Akhirnya, benda itupun menjadi milikku. Namun saat aku berubah menjadi iblis, benda itu aku titipkan kepada seseorang. Dan sekarang aku akan mengambilnya lagi dari orang itu…” Ciel menjelaskan. Aku mendengarkan dengan seksama, dan kembali terjebak dalam alam khayalku.
Ciel memang memiliki benda yang membuatnya menjadi Iblis terkuat. Tapi sekarang, benda itu tidak ada di tangannya. Berarti, saat ini, ia tidak bisa disebut sebagai Iblis terkuat.
Tapi, aneh… Kenapa aku ikut dilibatkan dalam masalah ini. Bukankah mereka memperebutkan benda itu?
“Ciel…” aku memanggil namanya lagi.
“Iya?” Ciel menjawabku entah untuk keberapa kalinya.
“Bila itu semua adalah alasan rentetan kejadian aneh ini berlangsung… Kenapa… Kenapa aku juga ikut terlibat dalam masalah ini? Bukankah yang kalian inginkan hanya benda itu? Tapi, kenapa aku… juga terlibat?” tanyaku dengan nafas tidak teratur. Ciel kembali terdiam.
“Itu permasalahan yang lebih panjang…” jawab Ciel dengan nafas berat. Aku pun kembali menunduk.
Entah kenapa, Ciel berhenti melangkahkan kakinya. Tubuhnya sedikit bergetar, tangannya pun mencengkram lenganku dengan lebih erat. Nafasnya berat sekali, seperti orang sedang ketakutan.
“A, ada apa, Ciel?” tanyaku sambil menatap matanya dalam-dalam.
“A… Alois…” ucap Ciel dengan suara bergetar.
Aku mengernyitkan kedua mataku. Mata Ciel terbelalak sangat lebar. Aku jadi penasaran, apa yang sebenarnya ia lihat. Tanpa menunggu lama, aku pun segera menoleh.
DEG!! Jantungku seolah berhenti berdetak. Untuk mengambil nafas saja, aku tak sanggup. Tubuhku mulai bergetar. Mulutku terbuka lebar, begitupun kedua mataku.
Bangunan megah dan hangat yang menjadi tempat tinggalku, bangunan yang menyimpan sejuta rasa sayangku, bangunan yang menyimpan harta terbesar dalam hidupku, bangunan yang menjaga aku dan keluargaku…. Kini…. Rata dengan tanah. Musnah. Menyisakan abu pekat dan gelap.
Aku segera mendorong tubuh Ciel, berusaha melepaskan diriku darinya. Aku pun terjatuh dan membentur tanah yang keras. Aku tidak lagi merasakan sakitnya dan secepat kilat berlari menuju bangunan itu.
“Tidak mungkin!!!! TIDAK!! TIDAK!!!” aku berlari tanpa ketepatan ketukan. Sesekali aku terjatuh akibat langkahku yang tak jelas arahnya ke mana. Aku bangkit dan terus berlari. Bayang-bayang rumah megahku bangkit dalam pandangan mataku. Ayah dan Ibu yang berdiri di depan rumah juga terlihat hangat dengan senyuman mereka.
“AYAH!!! IBU!!!!!” aku meneriakkan keduanya dengan emosi yang meluap-luap. Bayangan mereka perlahan menghilang dari pandanganku.
Aku terjatuh lagi. Tubuhku bergetar hebat. Aku mencoba menguatkan kakiku untuk kembali berdiri. Namun, tiba-tiba, seseorang memelukku dari belakang. Aku mencoba mengelak dan melepaskan tubuhku dari orang itu. Namun semakin aku meronta, ia semakin memeluk tubuhku erat-erat.
“Tenanglah, Lizzy… Aku masih di sini…” suara seseorang berbisik lembut di telingaku. Suara yang khas. Suara hangat dan penuh kasih sayang. Suara Kak Edward.
“Kakak akan menjagamu, Lizzy! Jangan takut! Kakak akan selalu berada di sini…” Kak Edward melanjutkan kalimatnya. Aku tersentak begitu mendengar ucapan Kak Edward. Tubuhku berguncang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Aku pun segera membalikkan tubuhku dan memeluk Kak Edward erat-erat. Air mataku yang rupanya sudah mengalir sejak tadi mulai membasahi pakaian Kak Edward.
“A, ayah… Ibu…” aku berucap dengan suara lirih dan menyayat hati.
“Ssttt… Tenanglah, Lizzy… Semuanya akan baik-baik saja…” Kak Edward berbisik dan memeluk tubuhku lebih erat. Tangannya perlahan-lahan membelai rambutku.
Aku kembali terhanyut dalam emosiku. Lautan perasaan sedih, takut, marah, bingung, dan lelah bercampur menjadi satu, menghadirkan perasaan yang tak dapat diungkapkan. Bendungan perasaan itu kini hancur sudah, membanjiri seluruh jiwa dan ragaku. Air mata yang keluar dari kelopak mataku, tidak lagi berupa tetesan-tetesan, tetapi keluar seperti aliran sungai yang menderu-deru.
“Lizzy… Berlarilah!” bisik Kak Edward lembut. Aku tentu sangat bingung dengan ucapan Kak Edward barusan.
Perlahan, Kak Edward melepaskan pelukan hangatnya dariku. Senyuman penuh kasih sayang tersimpul manis di wajahnya. Aku segera mengusap air mataku dengan kedua tanganku. Dan…
DEERR!!! Tiba-tiba, selongsong peluru menembus kepala Kak Edward. Cairan merah pekat itu pun mengenai wajahku. Mataku terbelalak jauh lebih lebar dari sebelumnya. Aku benar-benar tak bisa mengambil nafasku. Tubuhku pun berguncang hebat. Air mataku kembali meleleh.
Tubuh Kak Edward tergeletak di hadapanku. Aku mencoba melirik ke wajahnya. Senyuman yang tadi ia berikan padaku masih tersangkut indah di bibirnya. Tubuhku pun semakin lemas. Kepalaku berputar tujuh keliling.
Dengan gerakan lemah, aku mencoba menoleh ke arah peluru itu datang. Bayangan Ciel pun tertangkap jelas di mataku. Bayangan Ciel memegang sebuah pistol tua. Bayangan Ciel yang sedang membidik pistol itu ke arahku.
“Lizzy… Berlarilah!!” bisikkan lembut Kak Edward terdengar lagi di telingaku. Bisikkan terakhirnya.
Aku yang baru saja mengerti arti ucapan Kak Edward, segera bangkit dan berlari menuju hutan yang mengelilingi rumahku. Meskipun langkah kakiku tidak beraturan, meskipun tubuhku terasa sangat lemah, namun derap senandung misterius ini menggema dalam jiwaku.
Perjalanan panjang yang telah kulalui tiba-tiba bangkit kembali dalam benakku. Sebuah perjalanan yang rumit dan tak berujung ini terdengar selaras dengan senandung yang sedari tadi mengalun di jiwaku. Perjalanan panjang yang kutempuh demi mencari jawaban atas sosok yang seharusnya tak kucari. Perjalanan yang seharusnya tak perlu kujalani. Perjalanan yang bisa kuhentikan bila aku tidak memulainya. Bila aku memilih jalan yang lebih tepat. Bila aku memilih untuk diam dan merelakan segalanya.
Aku bodoh! Aku sungguh amat bodoh! Cinta hampa dan kelam ini berhasil membutakan mataku. Cinta yang kosong. Cinta yang benar-benar tak berarti ini. Menjijikkan. Aku telah mengorbankan banyak hal hanya untuk semua omong kosong ini.
Bodoh!
Segala hal telah kuberikan untuk kebodohan ini. Semua hal telah kulakukan demi kebodohan ini. Segalanya telah kusia-siakan untuk kebodohan ini. Ya, aku menyia-nyiakannya. Menyia-nyiakan segala hal yang aku punya. Menyia-nyiakan hidupku. Menyia-nyiakan bakat dan keahlianku. Menyia-nyiakan masa depanku sendiri. Bodoh! BODOH!!!!! BODOOOOOOOOHH!!!
BRUUUKK!! Aku tiba-tiba terjatuh akibat tersandung akar pohon. Aku ingin sekali bangkit dan kembali berlari, namun tubuhku benar-benar lemah. Aku pun hanya tergeletak di antara daun-daun yang berguguran. Aku seakan mencapai titik terakhir, di mana aku tidak bisa melanjutkannya atau pun kembali dan membereskan semuanya. Inilah aku sekarang. Tak sanggup melanjutkan perjalanan panjang yang kumulai sendiri.
“Sudah menyerah, ya?” suara dingin itu memecahkan khayalanku. Ya, itu suara Ciel. Figur yang selama ini kucari-cari.
Ciel melangkah mendekatiku. Ia membalikkan tubuhku, sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas. Ia menodongkan mulut pistolnya ke dahiku, sementara tangan kirinya melilit leherku.
“Maafkan aku, Lizzy… Aku harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sebelum orang lain mendahuluiku. Mungkin kamu tidak tahu, kalau sebenarnya, benda yang sangat penting itu sudah lama ada di dalam tubuhmu. Dan satu-satunya cara untuk merebutnya darimu adalah… Membunuhmu,” ucap Ciel menjelaskan. Suaranya bergetar dan tangannya mencengkram leherku dengan lebih erat.
Aku menatap mata Ciel dalam-dalam. Mata yang kini berwarna merah itu memandangku dengan tatapan datar. Seperti biasa, Ciel mampu menyimpan perasaannya dengan baik.
“Ada kata-kata terakhir yang ingin disampaikan?” Ciel bertanya dengan nada angkuh.
Aku terdiam seribu basa. Perlahan-lahan, aku menutup kedua mataku. Bayang-bayang senyuman indah Ciel menghiasi ruangan gelap dalam pandanganku. Aku memandangnya lagi. Aku memandang senyumannya yang indah, tawa renyahnya, keluguannya, segalanya. Setiap memori terindah yang telah kulewati bersamanya, terulang kembali. Kehangatan itu… Kasih sayang itu… Cinta itu… Tidak akan pernah bisa kusangkal. Tidak akan pernah bisa.
Aku membuka mataku kembali. Pandangan mata Ciel yang dingin dan datar itu masih menunggu jawabanku. Aku menarik nafasku perlahan, bersiap mempersembahkan kata terakhirku untuk Ciel.
“I love you…” ucapku dengan suara lirih namun penuh kasih sayang. Ciel tersentak. Tangan kirinya kembali mencengkram leherku dengan lebih erat. Meski begitu, aku bisa merasakkannya dengan baik. Tubuhnya berguncang hebat.
Tes… Tiba-tiba, setitik air jatuh di pipiku. Aku segera memandang wajah Ciel. Matanya yang berwarna merah pekat itu terlihat berlinang. Tetesan air matanya terjatuh semakin deras dan mengenai wajahku. Getaran hebat tubuhnya beriringan dengan sesenggukkan dari nafasnya yang tak beraturan.
Ciel membuka mulutnya, seolah ingin mengucapkan sesuatu. Ia tampak berusaha untuk mengatur nafasnya.
“I love you more…” bisik Ciel pelan, diikuti dengan sesenggukkannya. Tubuhku tersentak mendengarnya. Air mataku dengan cepat terkumpul di balik kelopak mataku. Aku pun segera memberikan senyuman hangatku kepadanya. Senyuman terakhirku.
DORR!!! Ciel menarik pelatuknya. Aku pun memejamkan mataku, mempersiapkan diri memasuki alam kematian.
Selesai sudah perjalanan hidupku. Tamat. Perjalanan panjangku ini sudah selesai. Menyisakkan sebuah perasaan cinta yang masih terasa perih dan menggantung. Perasaan yang sangat rumit dan tak dapat dijelaskan itu, masih menyelimuti jiwaku bahkan ketika aku sudah berada di alam kematian. Aku tidak menyesali semuanya. Tidak sama sekali. Yang ada sekarang adalah rasa penasaranku akan kalimat terakhir Ciel. Apakah kalimat itu adalah perasaan yang sebenarnya? Aku masih ingin bertanya pada Ciel tentang kebenaran kalimat itu. Seandainya saja, Tuhan bisa memberikanku kesempatan kedua, di mana aku bisa membereskan semua kisah hidupku dan melanjutkan masa depanku. Dan yang terpenting, aku bisa bertanya kepada Ciel tentang kalimat terakhirnya itu.
Hembusan angin lembut bertiup mesra, menyusup di antara tubuhku yang sedang tergeletak di tanah. Aku bingung, kenapa aku masih bisa merasakkan kelembutan angin padahal aku sudah mati? Dan entah mengapa, aku masih bisa merasakkan tangan kiri Ciel yang mencengkram leherku. Aku masih bisa merasakan getaran tubuh Ciel. Aku juga masih bisa merasakan usikkan dedaunan yang berguguran di sekitarku.
Aku mencoba memmbuka mataku perlahan. Wajah Ciel yang bermata merah itu memandangku dengan sebuah senyuman yang langka. Nafas Ciel yang tadi tak teratur, kini berangsur membaik.
“Pistol ini…. Tidak ada pelurunya…” ucapan Ciel itu menyentuh hatiku. Aku terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut kecilnya itu.
Aku tertawa panjang dengan suara kecil. Namun entah mengapa, air mata juga berjatuhan dari kelopak mataku. Aku benar-benar tak menyangka kalau aku ini masih hidup.
Ciel bangkit berdiri dan segera mengulurkan tangannya ke arahku. Aku pun segera meraihnya dan bangkit berdiri. Entah kenapa, tubuhku kini seperti mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
SREET!! Ciel tiba-tiba memeluk tubuhku. Aku tentu tersentak dengan tingkah anehnya itu. Ia jarang melakukan hal semacam ini, bahkan hampir tidak pernah.
“Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, Lizzy! Tidak akan pernah! Apalagi membunuhmu, aku tidak akan pernah sanggup melakukannya. Aku akan menjagamu sampai akhir hayatmu. Aku akan melakukan segala hal untuk bisa melindungimu. Karena kamu adalah segalanya bagiku, Lizzy! Karena kamu adalah separuh dari jiwaku! Dan yang terpenting adalah… Karena aku mencintaimu lebih dari apa pun…” Ciel menjelaskan perasaannya padaku. Pelukannya bertambah erat di setiap kalimat yang ia ucapkan. Aku juga memeluk tubuhnya erat-erat. Tak kusangka, Ciel telah menjelaskan arti dari kalimat ‘terakhir’-nya tadi.
“Terima kasih, Ciel… Aku juga mencintaimu…” jawabku lembut. Air mata pun kembali mengalir di wajahku. Namun air mata kali ini jauh berbeda dengan air mata yang sebelumnya pernah kuteteskan. Air mata ini lebih spesial. Air mata ini adalah air mata kebahagiaan.
Akhirnya, aku pun memulai suatu perjalanan baru dalam hidupku. Perjalanan yang jauh lebih panjang. Perjalanan yang kumulai bersama Ciel, sosok yang mengisi setiap relung-relung dalam hatiku.
Ini tentu bukan perjalanan yang mudah. Ini justru perjalanan yang jauh lebih sulit dari kisah sebelumnya. Aku harus bisa membantu Ciel dalam menghadapi setiap permasalahan yang melanda kehidupan rumitnya. Aku juga harus bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dari aku yang dulu.
Namun aku masih belum melupakan impian hidupku yang dulu. Membawa Ciel kembali kepada terang. Aku masih belum menyerah. Perjalanan baruku ini, justru membawaku mengerti lebih dalam tentang kehidupan Ciel yang sebenarnya, karena kini aku tinggal di Phantomhive Manor. Aku akan menunggu kesempatan yang tepat untuk menjalankan rencanaku. Selama menunggu, aku akan mencari tahu berbagai hal yang kuperlukan tentang ‘misi’-ku ini. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak akan mengambil keputusan yang salah. Aku juga tidak akan menyia-nyiakan segalanya.
Karena inilah aku yang baru.
                                                                         


***THE END***

Komentar