Chapter 8 - Dream
The New Me
Chapter 8 – Dream
Semakin tidak diketahui berada di mana, dan pukul
berapa
Aku berdiri di
atas padang rumput yang sangat luas. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah
rumput yang berwarna hijau. Rumput itu tumbuh sangat subur. Langit di padang
rumput itu juga berwarna biru cerah. Udara berhembus dengan mesra, membuat
suasana menjadi semakin tenang dan damai.
“Lizzy!”
seseorang menyahut dari belakangku. Aku segera berbalik, mencari-cari sumber
suara.
“Alois!!” sapaku
membalas Alois. Alois memberikan senyuman hangat.
“Terima kasih
sudah datang!” ucapnya lembut. Aku tersenyum dan menunduk.
“Sama-sama,”
jawabku sambil kembali menatap wajahnya.
“Bagaimana
menurutmu? Indah tidak?” tanya Alois dengan raut wajah semakin hangat.
“Iya! Bagus sekali!
Aku suka!” jawabku beruntun. Alois kembali tersenyum, lalu memandang padang
rumput yang luas itu. Suasana hening.
“Terima kasih,
Lizzy!” ucap Alois sambil terus memandang padang rumput itu. Aku menoleh dan
menatap wajahnya dalam-dalam.
“Terima kasih karena
telah mengerti semua perasaanku! Terima kasih karena sudah menjadi kenangan
termanisku. Terima kasih karena sudah menyukaiku. Terima kasih karena sudah menyayangiku.
Terima kasih karena sudah mencintaiku,” ujar Alois yang masih saja memandang
padang rumput itu. Aku terdiam sejenak lalu kembali tersenyum.
“Seperti yang
pernah kukatakan sebelumnya, semua itu berasal dari hatiku. Aku hanya
menyampaikannya kepadamu,” jawabku dengan tulus.
Alois terdiam
untuk beberapa saat, begitu pula denganku. Kami sama-sama memandang padang
rumput yang luas dan indah itu. Rasa canggung di antara kami berdua masih
sangat terasa. Aku bahkan merasa kalau Alois masih asing bagiku. Tidak seperti
Alois yang dulu kukenal.
“Lizzy,” panggil
Alois mengajakku bicara.
“Iya?” aku menanggapi
panggilan Alois.
“Bagaimana kalau
kita…. Memahat tanda cinta kita?” tanya Alois tiba-tiba. Aku yang terkejut
segera memberikan sebuah senyuman.
“Apa maksudmu,
Alois?” tanyaku memintanya menjelaskan.
“Jadi, kita
menuliskan tanda cinta kita. Kita, kan, saling menyayangi. Saling mencintai.
Nah, kita membuat sebuah tanda kalau kita itu saling mencintai!” Alois
menjelaskan dengan nada riang.
“Oh, begitu.
Iya, boleh saja! Memangnya mau dituliskan di mana?” ujarku yang diakhiri sebuah
pertanyaan.
“Di tanganmu!”
sahut Alois sambil tersenyum.
“Di tanganku?”
aku mengulang sambil menyerngit.
“Iya! Aku akan
buat di tanganku juga!” balas Alois dengan senyuman yang semakin merekah. Aku
merenung sejenak sambil ikutan tersenyum.
“Ayo, ke sini!
Akan kubuatkan tandanya di tanganmu!” seru Alois girang. Aku tersenyum lalu
mulai melangkah.
“Ayo, ke sini,
Lizzy! Kita berdua akan membuatkan tanda kita! Kita berdua akan menuliskan
janji suci kita! Kita berdua akan membuat sejarah!” seru Alois mengiringi
langkah kakiku.
“Iya, Alois!
Sama sepertimu, aku juga tidak sabar untuk segera menuliskannya di tanganku!”
sahutku dengan wajah senang.
“Ya, benar! Aku
sangat tidak sabar untuk menuliskannya di tanganmu! Aku sangat tidak sabar! Aku
tidak bisa menahan rasa sayangku kepadamu, Lizzy! Aku ingin segera memahatnya!
Aku ingin segera menuliskan tanda kontrak itu padamu!” sahut Alois dengan wajah
lebih senang. Aku berhenti melangkah. Aku sepertinya tersadar akan sesuatu.
“Tanda kontrak?”
tanyaku dengan tatapan bingung.
“Ma, maksudku,
tanda cinta!” sahut Alois tergagap. “Ayolah, Liz..”
“Tunggu dulu!!”
sambarku cepat, tepat sebelum Alois melanjutkan ucapannya. “Kamu bukan Alois!
Kamu Angela!!” sergapku yang langsung melangkah mundur.
“Aku Alois,
Lizzy! Kamu lihat sendiri, kan? Aku Alois!!” ujar Alois meyakinkan.
“Kamu bukan
Alois!” bantahku tajam. Alois terdiam, menunduk, lalu tersenyum kecil.
“Bagaimana kamu
tahu kalau aku bukan Alois?” tanya Alois tanpa menoleh. Ia tetap menunduk.
“Kau baru saja keceplosan, Bodoh!” sahutku meniru gaya
bicara Alois.
“Cih!” Alois
mendesis. “Padahal sedikit lagi, aku bisa mendapatkanmu!” sahutnya sambil
menoleh ke arahku.
“Ya, hampir!”
balasku. “Harusnya kau bisa menahan emosimu lebih lama!” lanjutku dengan nada
mengejek.
“Well..” ucap Alois. “Bisa kita buat
tanda kontraknya sekarang?” tanyanya dengan nada dingin. Perlahan-lahan, Alois
berubah menjadi Angela. Aku yang melihat Angela datang hanya menatapnya dengan
angkuh.
“Kau tidak
pernah menyerah! Aku kagum padamu!” aku memberikan pujian yang tidak tulus. Angela
tersenyum sinis.
“Terima kasih!
Tapi aku perlu membuat kontraknya sekarang!” sahut Angela bersikeras.
“Mengapa kau begitu
ingin membuat kontrak denganku? Mengapa kau begitu menginginkanku?” tanyaku
dengan tatapan membunuh. Angela kembali tersenyum.
“Ada banyak
alasan untuk menjawab pertanyaanmu itu! Aku tak yakin kau mau mendengarkannya.
Akan sedikit membosankan, lho!!” sahut Angela dengan nada meledek.
“Jawab saja
pertanyaanku, Angela!” aku berkata tajam. Angela diam dengan tatapan menusuk.
“Baiklah! Aku
akan menjelaskannya padamu, Penuntut!” sahut Angela dengan nada setengah tajam.
“Pertama, para Fallen Angel yang lebih dikenal dengan Setan ataupun Iblis,
sangat lemah bila berada di dunia. Kami harus hinggap di jiwa manusia, atau
membuat kontrak dengan manusia. Kedua, kamu adalah makanan yang lezat. Di
usiamu yang masih remaja, pendirianmu pasti masih labil dan tidak menentu.
Pasti akan lebih mudah membujukmu untuk membuat kontrak bersamaku. Dan ketiga,
kamu adalah bayaranku. Sebelumnya, Alois mengajakku bekerja sama untuk
mendapatkan Ciel kembali. Untuk itu, ia memerlukanmu untuk digunakan sebagai
umpan. Dan sebagai bayarannya, jiwamu akan menjadi milikku. Bagaimana? Puas?”
Angela menjawab dengan raut setengah jengkel.
“Oh, ternyata
alasannya cukup rumit!” jawabku menanggapi penjelasan Angela.
“Ya, dan kau
harus membuat kontraknya! Sekarang!” perintah Angela.
“Tapi bagaimana
kalau aku menolak untuk membuat kontraknya?” tanyaku menantang.
“Aku akan menelan
jiwamu sekarang!” jawab Angela datar.
“Pokoknya, aku
meminta maaf padamu. Karena aku tidak bisa membuat kontrak itu denganmu! Aku
pikir kontrak itu hanya akan membawaku menuju ke jalan yang lebih gelap, bukan
membawaku menuju perubahan yang lebih baik,” jawabku dengan lantang.
“Baiklah! Akan kumakan
jiwamu sekarang juga!” sahut Angela yang tampak mulai serius.
“Aku tidak
peduli tentang konsekuensinya. Yang jelas, aku tidak takut padamu! Aku tidak
takut pada neraka! Aku tidak takut pada kematian! Karena aku yakin aku adalah
anak Tuhan! Aku yakin, Tuhan akan memberikanku jalan keluar! Aku yakin, Tuhan
selalu menyertaiku bahkan di saat sulit seperti ini!” aku menyambar dengan
keras. Aku melihat perjalanan hidupku dari aku kecil sampai aku sekarang ini.
Aku yakin, semuanya itu karena adanya campur tangan Tuhan dalam hidupku. Bukan
karena sebuah kontrak dengan Iblis.
Angela tetap
melangkah dengan tatapan sinis ke arahku. Aku tetap berdiri teguh dengan
pendirianku. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menyusun sebuah doa
harapan kepada Tuhan. Meskipun sedikit sulit, tapi aku tetap berusaha untuk
menyampaikan doa terakhirku kepada Tuhan.
Dan entah
kenapa, Angela berhenti melangkah. Dari tatapan Angela, aku bisa melihat kalau
ia seperti merasa kesakitan. Angela menatapku dengan wajah bingung, sama denganku.
“Kenapa??”Angela
berucap dengan suara lirih. “Kenapa?? Kenapa??” ia mengulanginya. Tubuhnya
tidak bisa bergerak sama sekali.
Tiba-tiba,
sebuah cahaya putih muncul dari tubuh Angela. Cahayanya terang, sangat terang.
Aku pun menutup mataku sedikit dengan tanganku.
“TIDAAAAAKK!!!”
Angela mengerang keras. Cahaya putih itu menelan tubuhnya, dan memenuhi tempat
aku dan dia berdiri.
***
Komentar
Posting Komentar