Chapter 6 – My Heart


The New Me
Chapter 6 – My Heart

Pukul 19.00, Midford Manor
Senja sudah berlalu. Cahaya mentari tergantikan dengan kelap-kelip bintang di angkasa. Angin hangat di pagi hari, kini berubah menjadi hembusan angin malam yang dingin. Terang telah berlalu, dan kegelapan mulai menyilimuti dunia ini. Derasnya hujan yang mengguyur kota juga sudah mulai reda.
Dengan perasaan berderu-deru, aku berlari sangat cepat. Tatapan mataku hanya tertuju kepada gagang pintu rumahku. Sesampainya di depan gagang pintu itu, aku langsung meraihnya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga.
“Ayah! Ibu! Kak Edward! Paula!” semua orang kusebutkan satu per satu.
“Lizzy!!” sayub-sayub suara itu terdengar dari seluruh penjuru rumah. “Lizzy!” suara itu terdengar kembali.
Dengan kecepatan super, ayah, ibu, Kak Edward, dan Paula menghampiriku. Mereka semua memeluk tubuhku erat. Ayah membelai-belai rambutku, ibu mencium pipiku, Kak Edward tersenyum di sebelahku, dan Paula melihat tingkah kami sambil menahan tangis bahagianya.
“Ya, Tuhan!! Lizzy, kamu dari mana saja? Kenapa pakaianmu jadi begini?” tanya ibu berturut-turut. Aku agak terperangah, baru sadar kalau aku memakai baju lusuh.
“I, itu…. Ceritanya lumayan panjang, bu!” aku menjawab tergagap.
“Ya, ampun!” ibu menyahut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa yang telah terjadi padamu, Lizzy? Kenapa tubuhmu berdarah begini?” ibu semakin panik.
“Ce, ceritanya sangat panjang, bu! Tapi, tenang saja, ini hanya luka gores! Aku baik-baik saja, bu!” aku menjawab runtut. Semuanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh, iya! Aku diantarkan pulang oleh Alois! Dia sedang menunggu di luar sekarang!” aku menyahut, mengalihkan arah pembicaraan. Semua orang menoleh ke pintu depan.
“Silahkan masuk, Mr. Alois Trancy! Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk menerima anda di Manford Manor!” sahut ayahku dari pintu yang tadi kudorong.
“Terima kasih, Mr. Midford! Saya sangat menghargai tawaran anda. Tapi, maaf, saya harus segera pergi,” jawab Alois dengan sopan.
“Ayolah, Mr. Alois! Anda harus ikut makan malam bersama kami, sebagai tanda terima kasih kami kepada Anda,” ibu ikut menyahut. Alois tersenyum kepada orang tuaku.
“Baiklah! Tapi, maafkan saya karena pakaian saya yang berantakan. Ini semua adalah pengorbanan untuk menyelematkan putri Anda,” jawab Alois sambil berjalan memasuki kediamanku.
“Tidak apa-apa. Kami akan menyiapkan pakaian ganti yang hangat,” jawab ibuku sambil tersenyum.
“Paula, tolong siapkan baju ganti untuk Lizzy, dan bersihkan luka-lukanya! Bawakan juga pakaian untuk Alois! Bawakan pakaian yang terbuat dari sutera!” ibu berbisik, memberikan perintah kepada Paula.
“Baik, Madam,” jawab Paula yang segera berlalu.
“Lizzy…” ibu menyebut namaku. “Bersihkan dirimu dan kenakan pakaian yang bagus!” ibu juga memberikan perintah bagiku.
“Baik, bu!” jawabku yang juga segera berlalu. Aku melangkah menuju kamarku, dan segera melakukan semua perintah ibuku.
                                                                        ***
Pukul 19.30, Dining Room
Aku melangkah perlahan-lahan, menuruni tangga besar menuju lantai satu. Gaun berwarna biru sederhana menyelimuti tubuhku. Rambut pirang yang tadi tampak tak beraturan, kini sudah dikuncir dua nan manis. Sepasang sepatu putih ber-hak pendek tampak sangat manis di kakiku. Ya, aku kembali menjadi anak yang imut.
Aku mempercepat langkahku menuju ruang makan. Sayub-sayub, terdengar suara canda dan tawa keluargaku. Suara khas Alois juga turut mewarnai rona-rona indah tawa mereka. Semuanya terasa begitu hangat bagiku.
Aku pun memperhatikan tingkah mereka dari balik dinding. Benar, semuanya tampak begitu akrab dan harmonis. Senyuman mereka, obrolan mereka, dan tawa mereka, semuanya tampak begitu tulus.
Ayah dan ibu tak henti-hentinya memberikan senyuman ke arah Alois. Mereka tampak sangat menyambut Alois sebagai calon tunanganku yang baru. Jujur, ini adalah kali pertama aku melihat ayah dan ibu tersenyum lepas. Biasanya, mereka selalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sampai-sampai melupakan senyuman indah mereka. Apalagi ibu! Dia terlalu keras dan galak. Bahkan kukira, ibu telah melupakan senyuman anggun miliknya.
Kak Edward juga ikut tersenyum. Ia tampak sangat senang dengan lelucon lucu yang dilontarkan oleh Alois sejak tadi. Tak kusangka, Kak Edward bisa seramah ini. Ya, meskipun ramahnya belum maksimal. Terkadang, Kak Edward masih membuang pandangannya dengan wajah dingin. Aku jadi bingung, ia sedang merasa senang atau sedih? Ia menerima Alois atau tidak? Atau, apa yang sedang ia pikirkan?
Secara otomatis, aku jadi teringat tentang kejadian hari ini. Saat di mana Angela memberitahukan rahasia Ciel dan Kak Edward. Aku tak bisa langsung percaya kalau semua yang Angela katakan itu benar. Aku harus mencari tahu kebenarannya dulu. Aku harus mengujinya terlebih dahulu.
“Hai, Lizzy!” sahut Kak Edward dari meja makan. Aku terperangah. Sepertinya Kak Edward sadar kalau aku mengamati tingkahnya sejak tadi.
“Hai, kak!” aku menjawab singkat, sudah terlanjur salah tingkah. Aku melangkah menuju kursi kosong yang berada di sebelah Kak Edward.
“Cantiknya!! Begitu, dong, anak ibu! Rapi, bersih, dan imut!” ibuku menyambut dengan suasana masih gembira.
“Iya, bu!” jawabku singkat sambil duduk di kursi itu. Semua orang terdiam dan memperhatikan tingkah lakuku.
“Bagaimana lukamu, Lizzy?” tanya ayahku dengan tatapan perhatian.
“Semuanya sudah dibersihkan dan diobati oleh Paula. Sekarang sudah lebih baik!” aku menjawab ramah. Semua orang di meja makan itu tersenyum.
“Ya, baguslah!” jawab ayahku sambil menoleh ke semua orang.
“Silahkan dinikmati hidangannya! Ayo, jangan malu-malu! Nikmatilah sepuasnya!” sahut ibu mengawali. Ayah dan Alois saling mengobrol ringan lalu mulai menyatap hidangan yang tersedia.
Di atas meja makan telah tersaji berbagai menu makanan lezat. Ada escargot, gateau, curry, bread-curry (seperti yang pernah dibuat Sebastian), dan satu ayam kalkun panggang. Semuanya tampak sangat lezat dan nikmat.
Aku mengulurkan tanganku, mencoba untuk meraih sepotong bread-curry. Begitu mendapatkan apa yang kuinginkan, aku lalu menaruh bread-curry itu di atas piringku. Aku menatap bread-curry tadi sesaat. Terlihat masih panas dan sangat lezat. Dan secara otomatis, bayang-bayang Sebastian dan Ciel bangkit kembali. Aku segera mengalihkan pandanganku ke Kak Edward, yang sedang duduk di sebelahku. Bukannya malah melupakan mereka, tapi, aku justru makin teringat akan Ciel, kenangan-kenangannya, dan semua kejadian yang kualami hari ini.
“Ada apa, Lizzy? Dari tadi menatap kakak dengan wajah seperti itu!” suara Kak Edward memecah semua khayalku. Aku sedikit terperanjat, baru tersadar kalau aku memperhatikan Kak Edward sejak tadi.
“Ti, tidak ada apa-apa, kok, kak! Aku hanya senang melihat kakak menikmati makanannya!” sahutku menutupi salah tingkahku.
Aku segera memperbaiki posisi dudukku. Aku mengambil garpu dan pisau makan. Tanpa menunggu lama, aku pun segera melahap bread-curry yang telah menanti di atas piring.
“Tanganmu kenapa, Lizzy?” Kak Edward kembali bertanya, tepat saat curry nan lezat itu meleleh di mulutku. Sangat gurih, masih panas, dan pedas.
“Hanya luka gores! Tenang saja, kak!” balasku yang tetap berusaha menikmati bread-curry milikku.
“Bukan! Maksud kakak, itu!” sahut Kak Edward sambil menunjuk ‘tanda kontrak’ yang terlukis di pergelangan tanganku. Aku tidak jadi menikmati kelezatan bread-curry tadi begitu mendengar pertanyaan Kak Edward.
 “Ceritanya panjang dan rumit, kak! Aku sendiri juga tidak begitu mengerti,” aku membalas dengan suara lemah.
“Cobalah ceritakan pada kakak! Kakak pasti mengerti!” sahut Kak Edward penuh perhatian. Aku melontarkan pandanganku kepada semua orang. Benar saja, semuanya sedang memperhatikanku.
“Kakak mau aku ceritakan dari awal, atau, hanya saat aku mendapat luka ini?” tanyaku mengulur.
“Ceritakan saja sebisamu! Kakak akan dengarkan!” lagi-lagi Kak Edward menjawab dengan penuh perhatian. Aku menghela nafas agak panjang. Aku menatap bread-curry di atas piringku sejenak, menyiapkan mental untuk mengakui semua kesalahanku. Aku harap, mereka akan mengerti.
“Jadi, begini….” aku mulai menjelaskan semuanya kepada Kak Edward sekaligus kepada semua orang di ruangan itu. Aku menjelaskan dari awal kepergianku dari rumah, alasanku pergi dari rumah, pertemuanku dengan ketua gank, hingga saat Angela datang dan ingin membuat kontrak denganku. Semua orang diam dan mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ibu dan ayah saling pandang, sedangkan Alois dan Kak Edward menatap wajahku serius.
“Sudah ibu bilang, kamu harus mengurangi latihan pedangmu dan mulai memperbanyak aktivitas dengan Alois! Dengan begitu, kamu bisa merelakan kepergian Ciel!” ibu segera berkomentar begitu aku selesai bercerita.
“A, aku sebenarnya sangat ingin melupakan Ciel. Aku ingin membuangnya jauh-jauh dari pikiranku, dan menatap masa depanku yang terbentang luas. Tapi, semakin aku berusaha melupakan dia, aku malah tambah teringat tentang dia. Semakin aku berusaha untuk melepaskan dia, dia semakin melekat di otakku. Aku pun menyerah untuk melupakan dia, dan mencoba untuk terus mengingat bayangannya. Maka dari itu, aku pun berusaha untuk bertemu dengan Ciel lagi. Semua itu adalah solusi bagiku untuk terlepas dari siksaan batinku yang selalu ingin menatap wajah Ciel,” aku melimpahkan semua perasaan hatiku yang paling dalam. Perasaan hatiku yang sudah usang dan terkubur sangat dalam.
Tak terasa, air mataku mulai bercucuran. Aku bahkan tak mengerti, ini air mata sukacita atau dukacita. Semuanya terasa sama bagiku. Perasaanku sudah tercampur dengan baik dan menghasilkan suatu perasaan yang tak dapat dimengerti.
“Sudahlah, dik! Kakak mengerti betul semua perasaanmu. Kakak tahu kalau semua hal yang telah ditinggalkan Ciel sudah terukir sangat dalam di hatimu. Kakak juga tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang. Kita sangat ingin melupakan dia, tapi, kita malah tambah mengingatnya. Maka dari itu, kita seharusnya tetap menatap ke depan dan melangkah maju dengan semangat baru,” Kak Edward menjelaskan dengan penuh kasih sayang. Tangannya membelai kepalaku lembut.
“Tapi, aku tidak bisa! Tidak akan pernah bisa! Semua kenangan itu, memori itu, terlalu kelam dan gelap untuk bisa dilupakan. Andai saja ia meninggalkan kenangan-kenangan yang lebih manis dan indah, mungkin aku bisa tetap melangkah maju. Tapi, semua yang ditinggalkannya hanyalah kenangan suram! Kenangan-kenangan buram! Semua kenangannya telah membutakan mataku untuk melihat tujuan hidupku! Aku tidak bisa melangkah dengan semua kenangan ini! Jangankan melangkah. Untuk menatap masa depan saja aku tidak kuat! Semua kenangan ini telah membunuh batinku!” aku mengungkapkan perasaanku sambil terisak. Aku tak kuat lagi menahannya. Mungkin sudah saatnya keluargaku mengerti perasaanku yang sebenarnya.
“Ssstt…. Dengarkan kakak dulu, dik! Waktu itu, Ciel pernah berkata sesuatu kepada kakak! Dia bilang, dia sangat berterima kasih atas semua hal yang telah ia lakukan bersamamu. Banyak hal indah dan manis yang telah kamu tinggalkan untuknya. Dia sangat bersyukur atas kehadiran dirimu dalam hidupnya. Dengan kehadiranmu, ia jadi memiliki alasan untuk tetap menjalani hari-harinya. Dia juga meminta maaf atas semua hal yang telah ia tinggalkan dalam hidupmu. Ia tidak pernah bermaksud untuk melukai hatimu, apalagi merusak hidupmu. Dan bila suatu saat dia harus pergi, dia ingin kamu merelakan kepergian dirinya. Dan itu bukan berarti kamu melupakan dirinya. Ia tahu kalau melupakan dirinya adalah suatu yang mustahil bagimu, begitu juga bagi dirinya. Maka dari itu, ia ingin kamu tetap melangkah maju tanpa terpengaruh dengan kepergiannya. Kamu boleh sedih. Kamu boleh menangis. Tapi kamu tidak boleh menyerah dan berhenti melangkah. Semua yang telah berlalu, biarlah menjadi suatu kenangan dalam hidup kita. Dan gunakanlah kenangan itu sebagai alasan untuk tetap melanjutkan hidup kita,” Kak Edward berucap panjang dan lebar. Kedua matanya menatapku dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Aku terdiam, merenungkan apa yang dikatakan oleh Kak Edward barusan. Setiap kata yang diucapkan Kak Edward sangat menyentuh batinku. Sangat dalam dan sangat indah. Mengalir begitu hangat dalam jiwaku. Memberikan suatu semangat baru bagiku. Memberikan suatu harapan mulia bagiku untuk mulai melangkah.
Perlahan-lahan aku mulai menghapus air mataku. Aku tak menyangka, ternyata, Kak Edward benar-benar menyayangiku. Mungkin bukan Kak Edward yang tadi berbicara kepadaku. Mungkin saja Ciel. Siapa pun itu, aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Aku jadi merasa lebih baik sekarang. Perasaanku menjadi lebih lega. Aku senang sekali.
“Oh, ya, ada satu hal penting yang Ciel ingin kamu ketahui!” Kak Edward menyahut sambil tersenyum.
“Apa itu, kak?” aku bertanya agak antusias.
“Ciel sangat mencintaimu!” Kak Edward menjawab dengan senyuman yang makin merekah. “Ciel selalu ingin melihat senyuman indahmu! Kamu adalah alasan ia hidup. Kamu adalah kekuatan dalam hidupnya. Kamu adalah kenangan termanis baginya. Maka, kakak mohon, mengertilah, Lizzy! Dia ingin kamu tersenyum. Dia ingin kamu bahagia. Dia ingin kamu memiliki kenangan indah. Maka dari itu, ia selalu berusaha untuk selalu menjagamu. Ia selalu berusaha untuk melindungimu. Ia selalu berusaha untuk menjaga senyuman itu di wajahmu. Jadi, mengertilah, Lizzy! Kakak harap, kamu bisa mengerti!” ucapan Kak Edward mengalun indah di jiwaku.
Entah mengapa, semua yang dikatakan Kak Edward saat ini sangat berarti untukku. Setiap kalimat, setiap kata, bahkan setiap huruf menyimpan suatu kasih tersendiri bagiku. Aku sekarang mengerti bagaimana aku harus bertindak. Aku sekarang mengerti bagaimana aku harus menyikapi kepergian Ciel. Aku benar-benar bersyukur!
“Aku mengerti, kak! Aku mengerti sekarang. Terima kasih, ya, kak! Karena kakak aku menjadi mengerti bagaimana aku harus menyikapi semua hal yang telah terjadi padaku. Aku benar-benar bersyukur karena punya kakak pengertian seperti Kak Edward! Aku sayang kakak!” ucapku yang segera memeluk Kak Edward. Kak Edward tersenyum dan memeluk tubuhku.
“Sama-sama, dik! Lagipula, ini sudah tugas kakak untuk selalu memberikan kasih sayang dan perhatian kepada adiknya!” jawab Kak Edward lembut.
Tak lama kemudian, aku melepaskan pelukanku dari Kak Edward. Aku segera menoleh, mengamati keadaan sekitar. Ternyata, ibuku sudah tak kuasa menahan tangis bahagianya. Ayah merangkul tubuh ibu dengan tatapan berwibawa. Sementara Alois. Ia tersenyum senang dan mengangguk ke arahku. Aku membalas anggukannya dengan kedipan mata dan sebuah senyuman.
“Aduh, anak-anak ibu! Kalian membuat ibu dan ayah bangga! Kalian sudah dewasa! Sudah bisa memberikan pengertian satu sama lain! Ibu sangat senang!” ibu berucap sambil menghapuskan air matanya.
“Sudah-sudah! Sekarang, semuanya sudah lega! Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi!” sahut ayah menutup. Semua orang  ruang makan itu tersenyum senang. Benar seperti yang ayah bilang, semuanya sudah lega, sudah selesai. Yang perlu kami lakukan sekarang adalah mulai menetapkan langkah pertama kami menuju masa depan.
Untuk sementara, keheningan melanda ruang makan itu. Hening sekali. Tidak ada yang bercakap-cakap, bahkan, tidak ada lagi yang menyantap hidangan makan malam. Dan, tiba-tiba…
SRET!! Tiba-tiba, lampu di rumahku padam. Ruangan itu menjadi gelap gulita. Aku tak bisa melihat apa-apa. Semuanya begitu gelap, sangat gelap.
“Paula!” ibu memanggil Paula. Tak lama kemudian, Paula datang sambil berlari dan membawa lilin.
“Yes, madam!” jawab Paula begitu sampai di hadapan ibuku.
“Apa yang terjadi?” tanya ibuku segera.
“Saya juga kurang tahu. Tetapi, kami akan segera menyalakan lilin untuk penerangan darurat!” jawab Paula menjelaskan. Serentak, pelayan-pelayanku yang lain datang sambil membawakan lilin.
“Claude!” Alois memanggil buttler-nya.
“Ya, tuan!” jawab Claude elegan.
“Aku ingin kamu mencari tahu apa yang terjadi, dan segera selesaikan masalahnya!” perintah Alois tegas.
“Baik, tuan!” sahut Claude dan segera berlalu dengan langkah elegan.
Ruangan itu mulai nampak terang karena diterangi oleh cahaya lilin. Meskipun tidak begitu terang namun aku tetap bisa melihat semua orang yang duduk di atas meja makan itu. Aku mengamati setiap gerak-gerik yang terjadi di ruangan itu. Paula berjalan perlahan mendekati ayah dan ibu. Begitu berada dekat ayah dan ibu, ia mulai berbisik. Dari raut wajahnya, ia tampak sangat serius. Ibu menatap ayahku dengan wajah khawatir. Ia lalu menggenggam tangan ayahku dengan erat.
“Mungkin akan lebih baik kalau kita berkumpul di ruang tamu! Di sana penerangannya lebih baik!” perintah ayahku kepada semua orang di ruang makan. “Kak Edward, kamu harus jaga adikmu sampai di ruang tamu!” ayah memberikan perintah kepada Kak Edward.
“Tentu saja!” jawab Kak Edward yakin.
“Ada apa, ayah? Apa yang terjadi?” tanyaku dengan perasaan mulai khawatir.
“Tidak ada apa-apa, sayang! Hanya konslet biasa,” sahut ibu mewakili ayah. Aku menghela nafas. Aku merasa kalau ada yang tidak beres di sini.
Tiba-tiba, semua lilin yang mengelilingi ruang makan itu padam. Semua kembali menjadi gelap gulita, tapi kali ini, terasa lebih mencekam. Ini adalah kejadian aneh. Sangat aneh. Bagaimana bisa semua lilin yang mengelilingi ruang makan ini padam. Padahal tidak ada hembusan angin yang mampu membuat lilin ini padam. Bahkan hujan yang tadi turun amat deras, kini sudah benar-benar reda.
“Edward, jaga adikmu!” perintah ayahku dengan nada agak panik.
“Baik, ayah!” jawab Kak Edward. Ia segera menggenggam tanganku dengan erat. “Tetaplah di sisiku, Lizzy!” ujar Kak Edward dengan  serius.
“Iya!” jawabku sambil mengangguk.
Semua orang di ruangan itu terdiam sejenak. Kami merenung untuk beberapa saat. Hening di dalam kegelapan. Itulah yang tengah melanda ruangan itu. Tak hanya ruangan itu yang diselimuti hening dan kegelapan. Hati kami juga, dibalut oleh keheningan dan kegelapan.
Entah mengapa, aku tiba-tiba merasakan suatu hawa dingin bertiup di pipi kiriku. Hawa dingin itu terasa sedingin es, sampai menembus ke sumsum tulang. Hawa dingin itu pun semakin meluas. Aku kini merasa kalau seluruh tubuhku diselimuti hawa dingin tersebut.
“Kak… Edward…” aku berbisik kecil, mencoba memanggil kakakku. Sayang, bisikkanku terlalu lembut, sehingga Kak Edward tidak dapat mendengarnya.
“AAAAAAAAAKKHH!!!!” aku menjerit sangat keras. Tiba-tiba tubuhku ditarik dari belakang. Aku tak tahu apa yang menarik tubuhku. Semuanya terlalu gelap. Aku bahkan tidak bisa melihat tangan yang menarikku.
“LIZZY!!!!” semua orang panik dan menjerit memanggil namaku. Mereka semua benar-benar panik, apalagi ditambah dengan kegelapan yang tak berujung ini.
“KAKAK!! TOLONG!!!” aku teriak sekuat tenaga. Semoga saja, mereka dapat mendengarku.
“Aku akan mengejarnya!” sayub-sayub suara Alois terdengar diiringi dengan suara derap kaki yang berlari.
“Aku juga!” Kak Edward ikutan menyahut. Suara derap kaki yang berlari juga kembali terdengar.
“Ssssssssttttt…” sebuah bisikan lembut dan panjang terdengar dari belakangku. Entah mengapa, tubuhku menjadi semakin lemah, semakin lemah, dan sangat lemah. Aku merasa seperti diayun-ayun. Semakin lama semakin dalam. Dan tak lama kemudian, aku tidak lagi merasakan apa-apa.
                                                                        ***

Komentar