Chapter 5 – Unbelievable
The New Me
Chapter 5 –
Unbelievable
Pukul 17.00, London City
Tes… Tes… Tes…
Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Hari yang terik seketika menjadi
gelap gulita. Rintik-rintik hujan berhasil membasahi kota yang padat itu. Aku
pun gelisah, bimbang, dan tentu saja kebingungan. Kini, aku hanya bisa duduk
diam dan memeluk lututku. Aku terdiam bersama seorang pemulung yang sedari dari
duduk di sampingku – di depan gereja tua. Nenek pemulung itu tampaknya sangat
kelaparan. Tubuhnya terlihat letih dan kumuh.
Aku menghela
nafas panjang. Udara di luar gereja ini sangat dingin. Aku pun merapatkan
tubuhku, berusaha untuk tetap hangat. Paling tidak, aku masih hidup. Aku bisa
saja kehilangan nyawa saat bertemu ketua gank tadi. Bila aku tidak lolos dari kepungan
mereka, mungkin, aku sudah dijadikan budak mereka. Untuk sekarang, aku masih
aman.
Aku jadi
teringat dengan kedua orang tuaku. Orang tua yang selalu berada di sisiku,
memberikan kehangatan istimewa bagiku. Entah mengapa aku jadi merindukan
mereka. Aku sangat berterima kasih kepada mereka, karena merekalah yang telah
menjaga, merawat, dan mendidik aku.
Aku mulai
menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari sesuatu untuk menghangatkan
tubuhku. Aku tak mendapatkan apa pun, kecuali seorang nenek yang sedari tadi
duduk manis di sampingku. Ia beberapa kali menatapku dengan tatapan khas
miliknya. Tak jarang, ia juga merapatkan selimut di tubuhnya.
“Elizabeth Ethel
Cordelia Midford,” nenek itu mengucapkan nama lengkapku. Aku terperangah,
terkejut dengan perkataannya.
“Pergi dan
berkelana ke kota seorang diri untuk mencari kekasihnya,” nenek itu berucap
lagi. Aku terperanjat, dan sedikit menjauhi nenek itu.
“Janganlah
engkau takut, Elizabeth. Akulah yang akan menuntunmu untuk meraih tujuan
hidupmu,” kata nenek itu sambil menatap mataku. Aku bingung, sangat bingung.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?
“A, aku tidak
mengerti,” ucapku pelan.
Nenek itu
memberikan sebuah senyuman. Ia meraih telapak tangan kananku, lalu mengamati
telapak tanganku dengan sangat hati-hati. Sesaat kemudian, ia menaruh telapak
tangannya di atas telapak tanganku. Nenek itu memejamkan matanya sesaat. Tak
lama kemudian, ia menarik telapak tangannya perlahan. Tiba-tiba, sebuah bola
bercahaya muncul di tengah-tengah telapak
tanganku. Aku terbelalak. Apa maksud semua ini?
“Lihatlah!” ujar
nenek itu dengan senyumnya yang khas. Aku menarik telapak tanganku lebih dekat.
“Kak Edward?”
aku bergumam pelan. Aku melihat Kak Edward sedang membaca buku. Tidak ada yang
salah dengan Kak Edward.
“Lihatlah lebih
dalam!” perintah nenek itu.
Aku pun terdiam,
lalu mengambil nafas dalam. Beberapa detik kemudian, aku mulai melihat bayangan
Kak Edward lebih dalam. Lebih dalam. Lebih dalam. Dan jauh lebih dalam. Aku pun
seketika terpaku. Aku melihatnya! Ya, aku melihatnya!
“Apa yang kau
lihat?” nenek itu bertanya dengan suara pelan. Aku menatap wajah nenek itu,
lalu menelan ludah.
“Ci, Ciel.. Ciel
Phantomhive,” aku menjawab pelan. Begitu aku mengucapkan namanya, tubuhku
langsung bergetar. Kenangan-kenangan masa laluku terbuka kembali. Kenangan yang
gelap dan kelam. Kenangan yang sudah mengkonsumsi jiwaku.
“Ciel dan Edward
sudah membuat suatu perjanjian. Ciel akan menempati tubuh Edward, sampai ia
berhasil memenuhi tuntutannya. Ciel melakukan itu semua karena ia harus
bertanggung jawab atas semua kenangan yang ia berikan kepadamu. Maka dari itu,
ia akan berusaha keras untuk membuatmu melupakan dirinya. Untuk membuatmu bisa
merelakan kepergiannya. Untuk membuatmu bisa menerima kenyataan hidup. Ia tak
ingin kamu tersiksa. Ia tak ingin kamu sedih. Ia tak ingin hidupmu hancur
karena dirinya,” nenek itu menjelaskan panjang lebar.
Jiwaku
terhentak. Tubuhku mulai bergetar. Tetes-tetes air mata mulai berjatuhan,
beriringan dengan rintik hujan yang tak kunjung reda. Tetes-tetes air mata yang
terjatuh tanpa aku sadari. Semua kenangan kelam itu kembali terbayang di
benakku. Setelah semuanya itu, setelah semua kenangan-kenangan buram itu,
setelah kepergiannya itu, ternyata, ia berada di sisiku. Tak kusangka, Ciel
ternyata begitu dekat denganku. Sangat dekat. Sayang, aku tidak pernah
mengetahui keberadaannya. Aku tidak pernah mengetahui kenyataan yang tertutupi
ini. Aku tidak pernah mengerti maksud tersembunyi ini. Aku tidak pernah
menyangka, kalau Ciel memegang tanggung jawab yang besar kepada diriku. Seandainya
saja aku mengerti dirinya lebih dalam, mungkin aku akan berusaha untuk
melupakan dirinya.
“Tapi, kenapa
Kak Edward mau membuat perjanjian seperti itu dengan Ciel? Dan ke mana Kak
Edward selama Ciel berada di dalam tubuhnya?” tanyaku pelan sambil menghapus
air mataku.
“Edward membuat
perjanjian itu karena dia sayang padamu. Dia sangat setuju terhadap alasan Ciel
membuat perjanjian itu. Lagipula, dia menganggap kamu tidak cocok dengan Ciel.
Maka dari itu, ia rela memberikan tubuhnya supaya ditempati Ciel. Sekarang,
tidak ada yang tahu di mana jiwa Edward berada. Ini adalah perjanjian langka.
Sangat langka. Perjanjian ini merupakan suatu pengorbanan dan perjuangan besar
untuk tujuan hebat,” nenek itu menjawab lengkap.
Aku tertegun.
Tak pernah terpikir olehku, kalau Kak Edward rela mengorbankan tubuhnya
untukku. Ternyata, Kak Edward peduli padaku. Ternyata, Kak Edward memikirkanku.
Ternyata, Kak Edward sayang padaku. Sungguh, aku sangat menyesal terhadap apa
yang telah kupikirkan tentang Kak Edward. Aku pikir, Kak Edward itu tak peduli
padaku. Aku pikir, Kak Edward hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku pikir Kak
Edward tidak sayang padaku. Maafkan aku, Kak Edward. Seandainya saja kau ada di
sini, aku pasti akan memeluk tubuhmu.
“Aku bisa
membantumu, Elizabeth,” ujar nenek itu tiba-tiba. Aku terdiam, mencerna
baik-baik tiap kata yang keluar dari mulut nenek itu. “Aku bisa membantumu
mendapatkan Ciel Phantomhive,” nenek itu melengkapi kalimatnya.
“Apa maksud
nenek?” tanyaku dengan perasaan bingung.
“Aku bisa
membawa Ciel Phantomhive kembali padamu,” jawab nenek itu. “Tapi, dengan satu
syarat,” nenek itu melanjutkan.
“Apa syaratnya?”
tanyaku cepat.
“Kamu harus
membuat kontrak denganku!” nenek itu menjawab lantang. Aku tercengang, sama
sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
Nenek itu pun
bangkit berdiri. Ia kembali tersenyum ke arahku. Ia berputar perlahan-lahan.
Tiba-tiba, cahaya putih dan terang menyelimuti tubuhnya. Aku menutup kedua
mataku karena tak kuat menahan terangnya cahaya itu. Dan begitu ia berbalik,
nenek itu telah berubah menjadi seorang wanita cantik. Wanita itu berambut
putih pendek, berkulit putih, dan berpakaian berwarna putih terang. Di belakang
tubuhnya, terbentang sebuah sayap berwarna putih bersih.
“Si… Siapa kau?”
tanyaku dengan perasaan takut.
“Greeting! My
name is Angela Blanc. I’m the Fallen Angel!” sahutnya dengan nada bicara yang
sangat dingin dan dalam. Jiwaku terhentak hebat, seperti sudah copot dari tubuhku.
Tubuhku bergetar kuat. Batinku dipenuhi ketakutan.
“Let’s make a
contract!” sahut Angela dengan tatapan tajam. Bibirnya tersenyum. Matanya
berbinar. Angela menarik tanganku, dan aku pun bangkit berdiri. Angela menatap
mataku dalam-dalam. Aku menelan ludah. Aku sangat takut akan semua hal ini.
Fallen Angel, kontrak, Ciel.. Aku frustasi!
“TUNGGU DULU!”
erangku sambil menarik tanganku. “What kind of contract that we are going to
make?” tanyaku berani. Angela tersenyum.
“Aku akan
menjadi pelayanmu. Semua permintaanmu adalah perintah bagiku. Kamu boleh
meminta apa saja. Termasuk, bertemu Ciel Phantomhive. Aku akan membawa Ciel
Phantomhive kembali ke dunia. Bila aku telah selesai melakukan semua tugasku,
jiwamu menjadi milikku. Jiwamu adalah imbalannya,” Angela menjelaskan panjang
lebar.
Aku merenung
sejenak. Aku sudah mendengar dan mengolah baik-baik tiap kata yang keluar dari
bibir cantik Angela. Ini adalah suatu kesempatan yang besar untuk bertemu Ciel.
Tapi, ini juga merupakan suatu resiko terbesar dalam hidupku. Sungguh, ini
adalah keputusan yang berat bagiku.
“Ayo, kita buat
tanda kontraknya!” ucap Angela yang langsung menarik tanganku.
Aku terdiam,
tidak tahu harus berbuat apa. Angela kembali menatap mataku dalam-dalam. Ia
tersenyum. Perlahan-lahan, ia menaruh telapak tangan kanannya di atas
pergelangan tangan kananku. Aku masih tenggelam di dalam arus pikiranku. Aku
ingin bertemu Ciel, tapi, aku juga tidak ingin berada di neraka. Dan kini,
Angela sudah mulai bertindak. Pergelangan tangan kananku mengeluarkan sebuah
cahaya terang. Dan…
BRUUUKK!! Aku
terhempas ke tanah karena didorong seseorang. Aku meringis kesakitan. Aku
melirik kecil, berusaha mencari tahu siapa yang telah menimpa tubuhku.
“ALOIS??!” ucapku lantang. Alois juga meringis kesakitan.
Tubuhnya bergetar menahan perihnya luka gores akibat batuan jalanan.
“Ce, cepat…
Pergi!” Alois berkata lirih. Aku yang melihatnya segera bangkit berdiri dan
menolong Alois untuk turut berdiri.
“Ayo!” aku
berkata penuh semangat. Alois mengangguk yakin.
Sambil
bergandengan tangan, kami pun mulai berlari menjauhi Angela. Dengan langkah
tertatih-tatih, hujan deras yang tak kunjung usai, dan detak jantung tak
beraturan, kami mencoba menapaki jalan yang terbentang luas dan panjang.
Tiba-tiba, sesosok
yang begitu besar menutupi jalan di depanku. Sosok mengerikan itu datang. Sosok
Angela yang tampak sangat menyeramkan berdiri tepat di hadapanku. Bibirnya
memberikan senyuman indah, namun matanya memancarkan aura kegelapan.
“Her soul
belongs to me!” Angela mengerang geram. Aku bergidik begitu mendengar suaranya.
Alois menggenggam tanganku lebih erat.
“NEVER!!!!”
bentak Alois penuh emosi. Ia segera menarik tanganku dan kembali berlari. Aku
berlari mengikuti Alois. Dari tatapan matanya, bisa kupastikan kalau ia sangat
ingin melindungiku.
Tak lama
kemudian, Alois berhenti berlari, tepat di sebelah kereta kuda. Aku terdiam,
mengamati setiap tingkah Alois. Alois membuka pintu kereta kuda itu, lalu
menoleh ke arahku.
“Ayo, masuk!”
sahutnya serius. Aku mengangguk setuju, lalu mengikutinya masuk ke dalam kereta
kuda itu.
“Jalankan
keretanya, Claude!” perintah Alois.
“Baik,” jawaban
Claude menggema di seluruh ruangan kereta kuda.
Kuda hitam itu
meringkik sedikit, lalu segera berlari menarik kereta kuda yang aku tumpangi.
Aku dan Alois sama-sama mengambil nafas panjang. Baju kami tampak lusuh dan
basah kuyup. Tubuh kami dihiasi luka gores. Jiwa kami dilanda kegelisahan yang
luar biasa.
Untuk beberapa
saat, kereta kuda itu dilanda kesunyian. Aku dan Alois berusaha menenangkan
hati kami dari rasa lelah ini.
“Alois, bisakah
kau bawa kereta kuda ini menuju ke rumahku? Aku harus bertemu Kak Edward. Dan
mungkin saja ayah dan ibu juga sudah pulang. Aku harus memastikan kalau mereka
baik-baik saja,” aku memberikan usul. Alois merenung, memikirkan sebuah solusi
yang tepat.
“Baiklah! Tapi,
kamu harus segera menyampaikan semua kejadian hari ini kepada orang tuamu,”
Alois menjawab dengan bijaksana.
“Iya,” aku
menjawabnya singkat.
“Claude, tolong
antarkan kami ke Midford Manor! Dan, percepat keretanya!” Alois kembali
memberikan perintah kepada Claude.
“Baik, tuan!”
jawab Claude elegan. Kereta kuda itu pun melaju dengan lebih cepat.
“Coba kulihat
tanganmu!” ujar Alois padaku. Aku sedikit terperangah. Tanpa berlama-lama, aku
segera mengulurkan tangan kananku padanya.
Alois
memperhatikan pergelangan tanganku dengan serius, begitu pula denganku. Aku
melihat goresan-goresan berwarna putih yang tidak beraturan. Bagiku, itu tampak
seperti sebuah tato keren yang abstrak.
“Bagaimana?
Apakah itu parah?” tanyaku beruntun. Alois termenung, kembali memikirkan
jawaban yang tepat.
“Ini tidak
terlalu parah. Belum bisa dikatakan kalau kalian sudah membuat kontrak. Tapi,
kalian sudah sedikit terhubung,” jawab Alois sambil melepaskan genggamannya
pada tanganku.
“Soal
kontraknya…” aku berucap lesu. “Aku tidak mengerti. Sebenarnya, kontrak apa
itu? Apa yang telah terjadi padaku? Dan, apakah semua yang dikatakan Angela itu
benar – soal Ciel dan Kak Edward? Aku benar-benar bingung!” aku kembali
bertanya beruntun. Alois tersenyum.
“Itu adalah
kontrak yang dibuat oleh manusia dan setan. Itu adalah kontrak yang terlarang.
Bukan hanya hidupmu yang akan jadi berantakan, tapi jiwamu juga akan musnah.
Maka dari itu, aku tidak akan membiarkanmu membuat kontrak semacam itu dengan
Angela. Dan apa yang dikatakan Angela bisa saja benar. Dia akan melakukan apa
saja untuk memperbanyak pengikut,” Alois menjelaskan panjang lebar. Aku
mengangguk kecil, mencoba untuk mengerti.
“Memangnya, apa
yang kamu perbincangkan dengan Angela?” tanya Alois spontan.
“Aku kira kau
sudah tahu,” aku membalas dengan tatapan datar.
“Aku tidak
mendengarmu, Lizzy! Aku hanya melihatmu sedang membuat tanda kontrak dengan
Angela. Jadi, aku langsung menghentikannya,” jawab Alois menjelaskan. “Jadi,
apa yang kamu bicarakan tadi?” lanjut Alois dengan sebuah pertanyaan.
“Tidak begitu
banyak, dan aku tidak begitu mengerti. Angela bilang kalau Ciel dan Kak Edward
sudah membuat perjanjian. Ciel akan tinggal di dalam tubuh Kak Edward sampai
aku berhasil merelakan kepergian Ciel. Angela juga bilang kalau dia akan
membantuku bertemu Ciel. Dia akan membawakan Ciel kepadaku. Tapi, aku harus
membuat kontrak dengan dia. Dan pada akhirnya, jiwaku akan menjadi milik Angela
sebagai imbalannya,” aku menjelaskan panjang lebar.
“Sudah kuduga. Kalian
pasti sedang membicarakan itu!” sahut Alois yang tampak riang. Tampaknya,
analisisnya benar.
“Sebelum itu… Fallen
Angel itu artinya apa, sih?” aku bertanya lagi. Alois pun memberikan sebuah
senyuman padaku.
“Aku juga tidak
begitu mengerti. Tapi, aku akan coba menjelaskannya padamu,” jawab Alois. “Pada
mulanya, Tuhan menciptakan segala-galanya. Terang, cakrawala, daratan, lautan,
tumbuhan, matahari, bulan, bintang, burung, ikan, binatang, manusia, dan tak
ketinggalan, para malaikat. Dari antara malaikat yang diciptakan Tuhan, ada
satu malaikan yang bernama Lucifer. Lucifer ini sangat cantik, indah, dan
sangat pintar. Karena itu, Lucifer pun mulai melakukan dosa. Dalam hati
Lucifer, timbul sebuah keinginan untuk menyamai Tuhan, menjadi seperti Tuhan,
bahkan, untuk melebihi Tuhan. Karena dosanya itulah, Lucifer dibuang dari Surga
dan dikurung dalam penjara dunia bawah. Nah, ada beberapa malaikat yang
terpengaruh dan akhirnya menjadi pengikut Lucifer. Malaikat yang menjadi
pengikut Lucifer itu disebut ‘Fallen Angel’, sedangkan yang berada di Surga
adalah malaikat-malaikat kudus. Begitu, Lizzy,” Alois menceritakan semuanya
padaku.
Aku tertegun. Jadi
itu yang telah terjadi. Aku tak menyangka kalau-kalau ada seorang Fallen Angel
datang dan ingin membuat kontrak denganku. Meskipun masih terselimuti
bayang-bayang kabur, tapi aku tetap berusaha untuk mengerti.
“Kita sudah hampir
sampai, tuan! Midford Manor sudah mulai terlihat,” sahut Claude kepada Alois.
“Baguslah!
Percepat lagi keretanya!” Alois menjawab sekaligus memberikan perintah.
“Ya, tuan!”
jawab Claude sambil mengangguk. Kereta kuda itu pun melaju jauh lebih cepat.
Aku jadi mulai
terbayang reaksi kedua orang tuaku terhadap semua kejadian ini. Mereka pasti
sudah sangat cemas dan khawatir. Aku jadi mulai takut. Aku sudah melakukan
sebuah kesalahan besar. Dan kalau kedua orang tuaku tahu, aku pasti akan
dimarahi habis-habisan. Mungkin, aku tidak akan diizinkan untuk bermain di
luar, pergi ke salon, apalagi berkeliling kota London. Aduh! Apa yang harus
kukatakan pada mereka nanti?
“Bersiaplah,
Lizzy! Kita sudah hampir sampai!” sahut Alois memberikan semangat.
“Iya!” aku hanya
menjawab singkat.
Aku kembali
menarik nafas panjang. Aku bergeser sedikit, agar bisa melihat ke luar jendela.
Bayang-bayang Midford Manor terlihat dengan sangat jelas. Sebuah kediaman megah
dan besar itu memberikan cahaya penuh harapan bagiku, yang nyaris ditelan
kegelapan.
Komentar
Posting Komentar