Chapter 4 – Play Outside


The New Me
Chapter 4 – Play Outside

            Pukul 11.20, London City
“ALOIS!!!!!!” jeritku keras. Aku pun berlari menuju Alois lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Alois tidak mengelak. Ia justru ikut berlari, dan memeluk tubuhku.
“Kamu lama sekali!!” ujar Alois sambil melepaskan pelukannya dariku. Aku langsung memasang tingkah lucu dan imut, seperti aku yang dulu.
“Hmm… Iya, maafkan aku!” jawabku singkat.
“Yah, Lizzy!” sahut Alois dengan tingkah ‘sok lucu’ yang murni buatannya. “Ya, sudah! Yang penting, kamu sudah ada di sini!” lanjut Alois.
“Sekarang kita mau ke mana, nih?” tanyaku bersemangat.
“Bagaimana kalau kita pergi mengelilingi kota ini saja! Berpetualang di tengah kota yang padat penduduk pasti sangat menyenangkan!” ajak Alois dengan semangat 45.
“Baiklah! Ayo, kita berpetualang!” aku berseru. Kedua tanganku terangkat ke atas. Mataku lurus menatap tanganku yang terkepal dengan sempurna. Alois meraih tangan kananku, lalu berlari tanpa melepaskannya. Kami berdua berlarian mengelilingi kota besar itu. Canda dan tawa, nyanyian dan seruan, terdengar sangat harmonis kala itu.
Hari ini, aku dan Alois berada di jantung kota London. Kami berdua memang sudah membuat janji untuk bertemu di sini. Dengan amat dan sangat terpaksa, aku pun pergi ke sini sambil memamerkan senyuman palsu ini. Ya, senyuman yang selalu palsu. Sebuah senyuman yang mengandung banyak arti dan makna. Sebuah senyuman yang menyimpan rasa perih dan pedih. Sebuah senyuman senang yang menyimpan kesedihan.
Aku dan Alois berlarian ke sana dan ke sini. Kepala pelayan kami hanya memandang kami dari kejauhan. Paula dan Claude. Kedua kepala pelayan itu hanya bisa menahan tawa saat majikannya berlari-larian. Seperti biasa, Paula terlihat sangat ceria dan bersemangat. Ia bisa selalu mengimbangi perintahku dengan candaan-candaan hangat dan ringan. Sedangkan Claude hanya memandang aku dan Alois dengan tatapan tajam dan serius. Sesekali dia tersenyum, tapi, senyuman itu tak seperti kebanyakan orang. Senyumannya menyimpan sejuta misteri. Senyumannya bahkan mampu menyimpan lebih banyak misteri daripada senyumanku.
Itu tentu kembali mengingatkanku akan kepala pelannya. Itu tentu dapat memanggil kenangan lama yang tersimpan di dalam hatiku. Selembar kenangan suram. Secarik kenangan kelam. Sebuah kenangan hitam.
Sebastian Michaelis. Nama itu berhasil keluar dari puing-puing reruntuhan kenanganku. Bayangan pelayan yang berpakaian serba hitam dan bermata merah itu kembali muncul di pikiranku. Tatapan matanya, sama seperti tatapan mata Claude. Sama-sama misterius. Sama-sama hitam. Sama-sama berasal dari neraka.
***
Pukul 19.00, London City
Aku berdiri di depan kereta kuda berdua dengan Paula. Wajah Alois yang putih berseri menatapku dengan tatapan ringan. Aku pun hanya tersenyum penuh kebohongan. Sambil melangkah maju untuk memeluk tubuh Alois, aku menatap Alois yang berdiri di depanku.
“Sampai jumpa, Lizzy!” ucap lelaki itu dengan senyum dan pelukan hangat.
“Sampai jumpa, Alois! Kapan-kapan, kita jalan-jalan lagi, ya!” jawabku sambil melepaskan pelukan itu.
“Iya! Pasti!” ucap Alois dengan nada pasti. Aku berbalik, lalu berjalan menaiki kereta kuda bersama Paula.
“Sampai jumpa!!” ucapku sambil melambaikan tanganku ke arah Alois. Kereta kuda itu mulai bergerak meninggalkan Alois di belakang sendirian. Senyuman hangat itu masih melekat di wajahnya yang putih berseri. Aku jadi ingat Ciel. Dia jarang sekali tersenyum, bahkan mungkin tidak pernah.
“Hari ini menyenangkan, ya, Paula!” sapaku riang sambil mengalihkan pandanganku kepada Paula yang sedari tadi duduk di sebelahku.
“Iya! Benar-benar menyenangkan, Nona Muda!” jawab Paula dengan senyuman hangat.
                                                                        ***
Pukul 10.00, My Bedroom
Saat ini sudah siang. Mentari sudah bersinar terang. Jam di sudut kamarku juga sudah menunjukkan pukul 10.00. Tetapi aku masih termenung di dalam kamar. Bukan karena aku terpasung oleh pikiran akan Ciel. Ini semua adalah perwujudan dari rasa bosan akibat menunggu.
Ya, benar, aku sedang menunggu. Aku menunggu saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku. Rencana yang sudah aku pikirkan sejak lama dan aku doakan setiap malam. Aku akan ‘kabur’ dari rumah. Aku akan mencari jiwa Ciel, seorang diri.
Orang tuaku akan pergi ke rumah kerabat hari ini. Rumah kerabat orang tuaku ini cukup jauh, sehingga akan memakan waktu yang cukup banyak. Aku tidak ikut dalam acara kali ini. Bukan karena tidak boleh, tapi, karena aku yang memintanya. Ya, ini semua kulakukan agar aku bisa kabur dari rumah.
Aku tahu, selama ini kedua orang tuaku berusaha untuk merawat, mendidik, dan menjagaku. Tetapi, mungkin ini akan terdengar gila, aku tidak suka selalu dijaga. Rasanya aku ingin keluar dan berjalan sendiri di dunia bebas, meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa. Jadi, beginilah akhirnya. Aku akan mencoba kabur dari rumah dan merasakan dunia bebas.
Selain untuk mempelajari dunia luar yang begitu luas dan keras, aku juga harus mencari jiwa Ciel. Mungkin jauh di luar sana, jiwa Ciel akan berhasil kutemukan. Aku harus mencarinya. HARUS! Jiwa Ciel adalah permata bagiku. Aku harus membawa Ciel kembali kepada jalan yang benar.
Kedua orang tuaku sudah berangkat. Permasalahan lainnya adalah Paula. Aku tidak ingin Paula ikut kabur bersamaku. Karena, selain bisa merusak petualanganku di dunia luar, dia juga bisa melaporkan kejadian ini kepada orang tuaku secara diam-diam sehingga orang tuaku meningkatkan kewaspadaannya kepadaku. Ya, lagipula ini tidak akan menjadi acara ‘kabur dari rumah’ kalau ada Paula. Pada akhirnya, kegiatanku hari ini bukan hanya menunggu, tapi juga berfikir.
Tok, tok, tok. Pintu kamarku diketuk dari luar. “Nona muda!” sapaan Paula terdengar mengiringi ketukan pintu. Aku yang sedari tadi merebahkan tubuhku di ranjang, segera duduk di tempat tidurku dengan posisi yang elegan.
“Silahkan masuk!” jawabku dengan agak ‘angkuh’.
“Nona muda, ini saya bawakan semangkuk pudding strawberry dengan segelas jus strawberry. Saya buatkan khusus untuk anda,” kata Paula sambil berjalan mendorong ‘kereta saji’-nya memasuki ruanganku. Aku hanya memperhatikan tingkah Paula tersebut dengan tatapan kosong.
Paula mendekat ke ranjangku. Ia mengambilkan semangkuk pudding strawberry dan menyerahkannya padaku. Aku hanya tersenyum polos dan menerima mangkuk itu.
“Bagaimana, Nona? Apakah ada yang kurang?” tanya Paula, seolah-olah ini adalah kali pertamanya membuat pudding strawberry.
“Tidak, semuanya sudah baik,” jawabku sambil sedikit tersenyum.
“Baguslah,” ucap Paula pelan. Aku hanya tersenyum tipis sambil menikmati pudding tersebut.
“Paula, ada satu hal yang ingin aku katakan kepadamu,” ucapku pelan dan memberikan ekspresi serius.
“Apa itu, Nona Muda?” tanya Paula antusias. Sepertinya, ia sudah siap mendengarkan curhatanku tentang Ciel.
“Aku sedang tidak enak badan. Aku…”
“HAH?! NONA MUDA SEDANG SAKIT?!! SAYA AKAN MENGHUBUNGI RUMAH SAKIT KERAJAAN!” ucap Paula sambil buru-buru berdiri.
“Tidak usah, Paula!” sergapku cepat. “Ini hanya pusing biasa. Mungkin pusing ini akan hilang saat aku tidur dan beristirahat!” lanjutku pelan. Paula terdiam sejenak. Entah kenapa ia menjadi terpaku mendengar ucapanku.
“Lalu?” tanya Paula dengan raut wajah tidak mengerti ucapanku barusan. Aku hanya mengangkat kedua bahuku perlahan sambil menggelengkan kepalaku pelan – berusaha menyampaikan maksudku.
“Oh, begitu!” kata Paula. “Baiklah, Nona, saya mengerti! Saya akan keluar dan tidak akan mengganggu anda beristirahat,” lanjutnya sambil mengambil mangguk pudding yang ada di tanganku.
“Bagus sekali,” ucapku pelan.
“Tapi, Nona, apakah anda yakin tidak apa-apa? Saya takut kalau anda kenapa-kenapa,” ucapnya di depan pintu kamarku.
“Tidak apa-apa, Paula! Hanya pusing biasa!” jawabku sambil sedikit tersenyum.
“Baiklah! Selamat beristirahat, Nona Muda! Kalau ada apa-apa, segera panggil saya!” sahutnya dengan senyuman terpaksa.
“Tenang saja!” jawabku menyakinkan. Paula menutup pintu kamarku. Suasana kembali hening seperti Makam China. Tapi tetap saja, suasana dalam hatiku tidak seperti suasana kamar ini. Hatiku sudah berdebar-debar sejak tadi, menantikan saat-saat ini.
                                                                        ***
Pukul 10.20, Midford Manor
Aku tertegun, terpaku, dan terpana. Aku tak pernah bisa melepaskan bayanganku dari cermin. Gadis kaya, berambut pirang, dan memakai pakaian imut, kini musnah sudah. Aku menggerai rambutku, dan membuatnya tidak beraturan. Pakaian kumal berwarna abu-abu menyelimuti tubuhku. Kain bekas dan tertambal kujadikan sebagai kerudung. Sepasang sepatu hitam lusuh mewarnai kedua kakiku. Aku sudah seperti anak jalanan sungguhan. Ini sangat menyenangkan.
Aku meraih selimut yang sudah kusambung-sambung menjadi tali. Dengan perlahan dan berhati-hati, aku keluar kamar melalui jendela. Dan dengan cepat dan tangkas, aku pun berhasil sampai di halaman sebelah kamarku. Akupun segera memasang kuda-kuda. Jurus itu pun berhasil aku gunakan dengan baik. Jurus yang telah lama aku pelajari. Jurus yang paling aku kuasai, tapi tidak pernah aku sadari. Jurus ‘Lari Bagai Cheetah’.
Tanpa memakan waktu lama, aku pun melangkahkan kakiku di pintu gerbang rumahku. Dengan rasa syukur dan senang bukan main, aku pun mulai menggerakkan kakiku menuju ke kota London. Dan dengan berbekal semangat, sebotol air minum, dan beberapa buah uang koin, sebuah perjalanan panjang pun dimulai. Perjalanan panjang yang entah bagaimana bisa datang ke otakku. Perjalanan panjang tanpa alasan yang jelas, tanpa awal yang jelas, dan tanpa pikiran yang jelas. Perjalanan panjang ini hanya tentang harapan.
                                                                        ***
Pukul 12.00, London City
Aku tak bisa mengutarakan bagaimana rasa lelah yang melingkupi tubuh dan jiwaku. Ternyata, perjalanan dari rumah ke kota London itu cukup jauh. Dan terik matahari siang ini sangat menyengat, tidak seperti biasanya. Ini sungguh berada di luar dugaanku.
Aku sudah menempuh perjalanan jauh, dengan hanya berbekal sebotol air minum dan uang koin. Perutku mulai lapar, persediaan air minum menipis, dan kedua kakiku sudah tidak kuat lagi melangkah. Aku perlu istirahat.
Untunglah Tuhan telah menyediakan berkatNya tepat di depan mataku. Seorang ibu separuh baya menjual air minum dan berbagai macam roti. Dengan langkah pelan, aku pun segera berjalan menuju toko ibu tersebut. Tanpa menunggu lama, aku segera membeli sebotol air minum dan satu buah roti dengan harga yang paling murah. Aku pun berjalan menuju satu lorong sempit yang teduh, sambil memakan roti tersebut dengan lahapnya.
Karena sedang melahap roti tersebut, aku jadi berjalan menunduk dan tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan yang badannya jauh lebih besar daripada aku. Dengan perasaan bersalah dan raut wajah takut, aku pun hanya bisa menunduk.
“Ma, maafkan aku!” kata itu akhirnya bisa keluar dari bibirku. Perempuan itu menatapku tajam, dengan wajah yang sangat menyeramkan.
“Dasar bocah kampungan! Apa kau tidak punya mata? Jalan saja masih tidak ‘becus’! Pantas saja kau miskin!” bentak perempuan itu dengan kasar.
“Maafkan aku!” ucapku lagi. Aku masih tetap menatap ke tanah.
“Oh! Sepertinya, kau anak baru di sini, ya?! Pantas saja kau tidak tahu! Di sini tidak ada kata ‘maaf’! Di sini hanya ada kata ‘makan atau mati’! Jadi di sini, kata ‘maaf’-mu tidak diterima dan kamu akan mati karena kamu memakan roti itu!” perempuan itu menyembur keras.
“Hah?” aku melongo. Aku benar-benar tidak mengerti ucapan anak perempuan itu. Jantungku semakin berdebar keras, seperti mau copot.
“Diamlah, kau bodoh! Asal kau tahu, aku adalah ketua dari gank di sini! Jadi, kamu sudah melakukan kesalahan fatal!” bentak perempuan itu lagi.
“Tapi kamu tidak tahu siapa aku!” sergapku keras. Dengan kecepatan tinggi, aku melakukan jurus itu lagi. Jurus yang tak terduga. Jurus yang tak pernah terpikirkan. Jurus ‘Lari Bagai 2 Cheetah’.
Aku berlari dan terus berlari, berusaha menjauh dari anak perempuan itu. Aku tahu, anak perempuan itu tak akan membiarkanku lepas begitu saja. Dan benar! Dia bersiul dengan keras, dan tiba-tiba segerombolan anak perempuan seusiaku berlari mengejarku. Aku pun terkejut. Jantungku berdebar semakin cepat dan tak beraturan. Aku merasa seperti berada di mimpi burukku setiap malam. Dikejar-kejar zombie.
Setelah merasa cukup jauh dari gerombolan anak perempuan tadi, aku pun berlari menyusuri sebuah jalan kecil yang panjang. Begitu aku mengamati ujung jalan tersebut dengan seksama, ternyata, itu jalan buntu!
Aku membalikkan tubuhku. Dan sesuai dugaan, gerombolan anak perempuan itu sudah menunggu di ujung lorong. Aku pun terjebak. Aku terhimpit di antara tembok dan anak-anak perempuan itu, di antara keputus-asaan dan harapan, di antara kematian dan kemungkinan untuk hidup.
“Sudah menyerah, anak baru?” tanya si ketua gank. Aku hanya diam membisu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Kau tahu, kau termasuk anak yang berani! Kamu ini berani mencoba berlari untuk melarikan diri dari kami. Dan dengan keberanianmu itu, kamu pun terjebak. Dasar bodoh!” si ketua gank berkicau lagi. Aku gugup, sangat gugup. Sampai-sampai roti yang kugenggam sejak tadi, terlepas dari tanganku dan terjatuh ke tanah.
Aku diam dan merenung. Aku sedang bermain dengan pikiranku sekarang, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Apakah aku harus melawan anak perempuan itu? Atau, haruskah aku memanjat tembok yang tinggi? Aduh, semua ini membuatku gila.
“Meeoow!!” suara kucing itu mengalihkan pikiranku. “Meeeeoooww!!!” kucing itu bersuara lagi, kali ini lebih keras. Suaranya yang khas dan berbeda dari kucing biasanya, membuatku merasa kalau kucing itu sedang memanggilku.
Aku menggerakkan kepalaku, mencari sumber suara. Ternyata ada seekor kucing hitam yang berdiri di sebelah tempat sampah, lebih tepatnya, di sebelah tongkat kayu yang panjang.
“TANGKAP DIA!” erang ketua gank itu tiba-tiba. Segerombolan anak perempuan itu berlari ke arahku, seperti para monster yang ingin melahap putri yang cantik.
Aku panik, tak bisa berfikir sama sekali. Aku bingung dan benar-benar bingung. Aku tidak tahu harus melangkahkan kakiku ke mana. Aku mencoba menggerakkan kepalaku sekali lagi. Mataku tertuju pada tempat sampah tempat kucing hitam itu bertengger. Aku mengerti! Aku mengerti!
Dengan menggunakan jurus yang baru tadi kutemukan, aku berlari menuju tempat sampah itu secepat cheetah. Aku meraih tongkat kayu yang tersandar di tempat sampah, lalu menggerakkan tongkat itu, membuat suatu pertahanan. Anak-anak perempuan itu diam tak berkutik. Mereka terpukau dengan atraksi yang baru saja aku lakukan.
“HAHAHAHA!!! Kalian pikir, aku akan menyerah begitu saja?! DASAR BODOH!” ucapku membalikkan semua perkataan ketua gank itu padaku. Mereka semua memandangku dengan tatapan membunuh. Aku pun hanya tersenyum manis. Ternyata, terjebak itu juga menyenangkan.
Aku menggerakkan tongkat itu lagi, hingga terlihat seperti aku memutarnya. Dengan langkah pasti dan berani, aku berjalan menuju ujung lorong yang terbuka sambil tetap menggerakkan tongkat kayu itu. Anak-anak perempuan itu, termasuk ketua gank, tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka akhirnya menyingkir dan membiarkanku lewat, mereka takut terkena tongkat kayu yang terlihat sangat ganas.
Sesampainya di ujung lorong yang terbuka, aku melemparkan tongkatku ke tanah. Jurus itu pun kembali aku gunakan. Aku kembali berlari secepat cheetah, mencoba melarikan diri dari para monster itu. Dan untungnya, mereka tidak mengikutiku. Mereka hanya diam menyaksikanku pergi.
                                                                        ***

Komentar