Chapter 3 – Tunangan Baru


The New Me
Chapter 3 – Tunangan Baru

                Cit! Cit! Cuuiiittt!!! Nyanyian burung-burung mungil itu terdengar merdu. Nyanyian itu bisa memecahkan gelapnya mimpiku. Aku membuka mataku perlahan-lahan, berusaha menguatkan diriku dari berbagai kejadian yang telah kulewati. Kejadian-kejadian suram. Kejadian yang menyimpan kesedihan yang tidak berujung.
Aku bangkit dan duduk di atas tempat tidurku. Aku melihat sekeliling. Tetap tidak ada yang berubah. Aku mengamati pakaianku. Aku baru sadar kalau aku masih memakai gaun kuning milikku. Aku terperangah, mengamati jarum-jarum jam. Ternyata, sekarang pukul 08.40. Aku pun memutuskan untuk bangun, dan berkeliling mansion.
Aku memutar kunci yang menggantung di pintu kamarku dengan hati-hati, lalu membukanya perlahan-lahan. Setelah pintu kamarku terbuka sedikit, aku pun melirik ke kanan dan ke kiri – memastikan tidak ada yang melihatku. Setelah yakin semuanya aman, aku pun mejejakkan langkah pertamaku.
Aku menempatkan telapak kakiku perlahan-lahan. Aku tidak ingin ada orang yang tahu tentang keberadaanku ini. Perlahan namun pasti, aku berjalan di lorong mansion tempatku tinggal. Aku benar-benar penasaran, apa yang tengah dilakukan Paula dan pelayanku yang lain saat hari masih pagi.
Aku berjalan ke ruang tamu. Sebelum aku melangkah masuk ke ruang tamu, aku berhenti lalu menempelkan tubuhku ke dinding. Dengan sangat hati-hati, aku kembali melirik ke kanan dan ke kiri. Memastikan, apakah ada orang di ruang tamu.
“Tidak ada orang!” bisikku pelan. “Hah?!” kata itu keluar dari mulutku dalam bentuk bisikkan lembut. Aku baru tersadar kalau dinding ruangan itu dan dinding lorong tadi kulewati kini sudah penuh dengan warna ungu muda. Biasanya, keluargaku akan mengubah wallpaper dinding rumah kami apabila ada orang penting yang berkunjung ke rumah kami.
“Tralalala…. Trililili….” nyanyian merdu Paula terdengar sayub-sayub. Aku melihatnya berjalan riang sambil membawa sebuah vas bunga berwarna ungu gelap yang berisikan beberapa bunga mawar merah. Dengan hati-hati, ia meletakkan vas bunga itu di atas meja kaca yang terletak tak jauh dari sofa.
“Hmm…. Sekarang sudah pukul sembilan kurang lima menit! Aku harus membangunkan Lady Elizabeth!”  ucapnya sambil melirik ke sebuah lemari jam yang berada di sudut ruangan.
Dengan kecepatan super, aku berlari menuju kamarku. Sesampainya di sana, aku segera menutup pintu kamarku perlahan-lahan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Aku menempatkan telapak tanganku ke kunci kamarku yang masih menggantung di pintu. Sambil menutup mata, aku pun memutar kunci itu dengan perlahan-lahan. Aku segera berlari menuju kasur, membenamkan kepalaku di bantal – persis seperti sediakala. Dan tak lama kemudian…..
Tok… Tok… Tok… Pintu kamarku diketuk.
“Lady Elizabeth!” Paula memanggil namaku. “Selamat pagi, young lady! Ini sudah waktunya bagi anda untuk bangun!” lanjut Paula segera. Aku lalu bangkit, dan berjalan ke pintu. Dengan perlahan, aku memutar kunci kamarku. Dan akhirnya, membuka pintu kamarku.
“Selamat pagi, Young Lady!” sapa Paula ceria.
“Selamat pagi,” jawabku singkat, dengan nada lemah. “Apa kegiatan kita hari ini, Paula?” tanyaku segera.
“Hari ini Madam Frances kembali membatalkan semua jadwal anda,” ucap Paula dengan tenang. “Hal itu dikarenakan Mr. Alois Trancy akan berkunjung dan bertemu dengan anda hari ini. Anda dan Mr. Alois akan menghabiskan hari ini bersama-sama,” jawab Paula menjelaskan.
“Terima kasih, Paula!” jawabku singkat dengan nada dingin.
“Dengan senang hati, Young Lady!” jawab Paula formal. Aku baru tahu, ternyata, Paula bisa bertingkah formal.
                                                                        ***
Pukul 10.00, Living Room
Aku dan seluruh keluargaku berkumpul di ruang tamu. Ayahku duduk di sebuah sofa tunggal, Ibuku di sofa panjang, kakakku di sebuah sofa panjang yang berada di sebelah sofa yang ditempati ibuku, sedangkan aku duduk di sebuah sofa tunggal lainnya yang menghadap ke sofa yang diduduki ayahku. Kalau ayah sudah mengumpulkan kami di ruang tamu, berarti ada sesuatu yang penting dan ayah akan menyampaikannya pada kami.
Aku hanya dapat duduk dan terdiam di atas sofa itu. Menunduk, menatapi sepasang sepatu high-heels pemberian ayahku. Ini adalah kali pertama aku memakai sepatu ini, dan sepatu ini pasti sudah jenuh berada di lemari. Aku memang meletakkan sepatu ini jauh-jauh dariku. Aku tak ingin memakainya, karena aku terlalu menyayangi Ciel. Ciel sudah berusaha keras untuk terlihat dewasa dengan sepatu hak tingginya. Aku harus menghargainya, dan tetap setia dengan sepatu anak-anak yang memiliki hak rendah. Tapi, bukan karena aku memakai sepatu hak tinggi ini aku menjadi lupa dengan tekadku. Tidak. Aku memakainya, karena aku tidak mau mengkhawatirkan keluargaku. Mereka tahu aku sedih, dan itu memang benar. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka tahu kalau sebenarnya Ciel sedang menuju ke neraka, dan aku berusaha menyelamatkannya. Tidak, mereka tidak boleh tahu. Ini masalahku, dan aku harus bisa menyelesaikannya. Yang mereka tahu hanyalah seorang remaja putri yang tengah mengalami masa pubertas, di mana sel-sel hormone bisa meningkat sewaktu-waktu dan bisa mencampur dan mengaduk perasaan seseorang dengan baik. Itu saja. Dan, itu sudah cukup.
“Lizzy, ayah ingin berbicara denganmu,” suara ayah memecah keheningan. Aku tetap diam dan memfokuskan pikiranku kepada setiap kata yang berhasil keluar dari bibir ayahku.
“Ayah, tahu kalau kamu sedih. Ayah tahu, kalau kamu masih tidak bisa merelakan Ciel. Tapi, keputusan ayah dan ibu sudah bulat. Kamu membutuhkan tunangan yang baru,” jelas ayahku. Aku tersentak dan melihat mata ayah dengan sungguh-sungguh.
“Ibu tahu ini berat, Lizzy. Tapi, ibu dan ayah tidak bisa membiarkan kamu terus bersedih. Kamu memerlukan seorang teman, sayang. Teman yang selalu menyayangimu hingga perjalanan hidupmu berakhir,” ibuku menyambung penjelasan ayahku.
“Ta, tapi, bu….”
“Lizzy, keputusan ini sudah bulat! Tidak bisa diubah lagi. Kamu akan bertunangan dengan Earl Alois Trancy,” ayahku menyambar keras.
Aku yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan terpaku. Bersiap-siap menghadapi sebuah kenyataan hidup. Kenyataan yang sangat aku benci. Aku akan bertunangan… dengan seorang Earl. Dia benar-benar Earl? Oh, Tuhan, kenapa aku harus selalu dijodohkan dengan seorang Earl?
“Lizzy, Mr. Alois Trancy ini suesisa dengan Ciel, 13 tahun. Dia sangat cocok denganmu. Dia orangnya selalu bersemangat tinggi, murah senyum, ramah, pokoknya, dia orang yang baik!” ucap kakakku mencoba menghiburku – atau dengan kata lain, mengejek Ciel.
Tap, tap, tap, tap…. Terdengar derap langkah kaki Paula yang tengah berlari menuju ruang tamu. Wajahnya yang selalu ceria dan penuh senyuman hangat, masih saja terpampang jelas.
“Madam Frances,” Paula menyebut nama ibuku. “Mr. Alois Trancy sudah sampai. Sekarang ia berada di halaman depan,” Paula menyampaikan pesannya dengan nada hangat. Ibu dan ayahku segera bangkit, lalu berjalan bersama menuju ke halaman depan diikuti Paula yang berjalan di belakang ayah dan ibuku.
Aku dan kakakku tetap duduk dan terdiam di ruang tamu. Kami bermain-main dengan khayalan kami masing-masing. Aku masih tetap memikirkan Ciel. Selalu saja Ciel. Aku masih bertanya-tanya tentang nasibnya setelah berubah menjadi iblis. Apa yang sedang kamu lakukan, Ciel? Bagaimana kabarmu?
“Lizzy…” kakakku menyebut namaku. Aku hanya menatap wajahnya, tanpa jawaban. “Maafkan kakak, dik! Kakak tidak bermaksud melukai perasaanmu. Kakak hanya ingin membantumu untuk bisa merelakan Ciel. Aku ingin kamu tersenyum dengan segala kenagan indah, bukan selalu merenung memikirkan kenangan buruk. Dan entah kenapa, kata-kata itu terlantun begitu saja dari mulutku. Maafkan kakak, dik!” lanjut kakak perlahan-lahan. Aku tersentak. Aneh, kakakku ternyata bisa meminta maaf.
“Tidak apa-apa, kak! Lagipula, aku juga salah. Aku terlalu memikirkan perasaanku pada Ciel, dan tidak memikirkan maksud kakak melakukan itu semua. Tapi, kalau kakak mau melihatku tersenyum dan melupakan Ciel, kurasa itu tidak akan pernah terjadi. Ciel dan semua kenangan yang telah ditinggalkannya bagiku sudah terlalu sedih untuk bisa dilupakan. Jadi, aku akan bertahan dengan semua kenangan gelap dan perasaan sedih ini, sampai kapan pun,” aku menjawab panjang lebar. Kakakku tersentak mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil. Sebuah jawaban yang keluar dari bibir seorang gadis imut dan manis yang kini sudah berubah menjadi gadis baru – seorang gadis yang sedang menghadapi takdir gelap, seorang gadis yang tengah berusaha untuk menepati janjinya.   
“Good morning, Lady Elizabeth!” suara itu bisa terdengar dengan jelas di telingaku. Seorang laki-laki berambut putih, berkulit putih, dan memakai jas panjang (bleizer) berwarna ungu berjalan mendekatiku.  “Namaku Alois Trancy. Segala hormat kuberikan kepadamu, Lady Elizabeth!” ucapnya sambil menunduk memberi hormat kepadaku.
“Wah, manis sekali!!!” ucapku girang. Dengan kecepatan tinggi, aku berlari lalu memeluk tubuh Alois. Alois tidak terkejut. Ia justru memeluk tubuhku. “Aku senang bertemu denganmu!!” lanjutku sambil melepaskan pelukanku darinya.
“Mr. Alois, perkenalkan, namanya Edward. Dia kakaknya Elizabeth!” sambung ibu sambil menunjuk kakakku yang berdiri di depan sofa. Alois berjalan mendekati kakakku dengan langkah pasti.
“Senang bertemu denganmu,” ucapnya sambil menjabat tangannya. Kakakku tersenyum ramah.
“Senang bertemu denganmu juga,” jawabnya dengan nada ramah, yang sepertinya agak dibuat-buat.
“Silahkan duduk, Mr. Alois Trancy!” kata ayahku formal.
Alois hanya tersenyum, lalu duduk di sofa tunggal yang tadi kutempati. Aku dan ibuku lalu duduk di sofa yang sama. Kakakku lalu duduk di sofa yang sejak tadi ia tempati. Dan mulai saat itu, sebuah kehangatan memancar indah. Canda dan tawa, semuanya bercampur menjadi satu dan menunjukkan sebuah citra indah dari diri Alois. Sepertinya, aku kini mulai terbiasa dengan senyuman palsuku ini.
                                                            ***
Pukul 13.00, Hall Room
Aku, kenangan gelapku, perasaan hitam-putih, dan senyuman penuh kepalsuan ini kini berada di Hall Room. Aku tengah menyaksikan sebuah pertarungan yang sudah lama tidak kulihat. Pertarungan tunanganku dan ibuku, kini tengah berlangsung seru. Ternyata, Alois bisa mengimbangi semua kemampuan pedang yang dimiliki oleh ibuku. Ya, aku tahu, ia benar-benar berbeda dari Ciel.
Cling!!!! Ujung pedang Alois hampir menusuk mata ibuku – begitu pula sebaliknya. Mereka berdua memang hebat. Pantas saja, ibu dan ayah menjodohkanku dengan Alois. Ternyata, Alois memang punya banyak kelebihan.
“Kamu memang hebat, Alois!” sahut ibuku dengan nada bangga.
“Terima kasih, Madam Frances. Keahlian pedang anda benar-benar menakjubkan,” jawab Alois dengan santun.
“Alois!!!!” aku berlari dari sudut ruangan sambil membawakan handuk kecil. “Tadi benar-benar mengesankan!” sahutku sambil memberikan handuk kecil itu kepadanya.
“Terima kasih, Lizzy! Aku tahu, keahlian pedangmu mengagumkan! Jangan merendahkan diri begitu!” jawab Alois sambil menghapus keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang kuberikan.
“Anak-anak, ibu pergi ke ruang tamu, ya!” sahut ibu menghentikan pembicaraan kami berdua.
“Iya, bu!” jawab aku dan Alois bersamaan. Ibu lalu berjalan meninggalkan Hall Room. Meninggalkan kami berdua.
“Lizzy, kegiatan apa yang kamu sukai?” tanya Alois riang. Aku terdiam sejenak, tetapi, tetap memasang ekspresi riang.
“Hmm…. Apa, ya?!” aku mencoba berfikir, mencari jawaban yang tepat.
“Menari? Jalan-jalan? Kamu suka tidak?” tanya Alois lagi.
“Iya, aku suka! Aku suka semuanya!” jawabku dengan ceria.
“Bagus! Bagaimana kalau besok pagi, kita jalan-jalan ke kota London?!” Alois megajak. Aku yang mendengar hal itu, segera memasang wajah gembira.
“Ya, aku suka itu!” jawabku segera.
“Ok! Berarti, besok pukul sebelas siang di kota London. Sekarang, ayo, kita menari! Claude, nyalakan musiknya!” sahut Alois berturut-turut.
“Baik!” sahut Claude, kepala pelayan Alois, sambil menghidupkan phonograph yang berada di sudut ruangan.
Musik mulai dilantunkan. Musik indah bernada romantis. Alois meraih tangan kananku dengan tangan kirinya, dan memegang pinggulku dengan tangan kanannya. Kami berdua mulai berdansa. Langkah kaki kami seirama dengan musik yang mengalir dengan anggun. Aku pun tenggelam dengan semua perasaan ini. Perasaan yang membuatku menikmati kisah hidupku. Kisah hidup yang gelap. Kisah hidup yang suram. Segala perasaan, kenangan, dan kisah hidupku itu meleleh – mengalir keluar bersama dansa ini. Ternyata, Alois tidak seburuk yang aku bayangkan. Ia baik juga. Tetapi, sebuah hawa aneh juga keluar dari senyuman Alois. Sebuah perasaan baru. Sebuah perasaan gelap. Sebuah perasaan, yang sepertinya berusaha menyampaikan sesuatu. Sebuah perasaan yang mengisyaratkan kalau sebenarnya, Ciel dan Alois memiliki sebuah hubungan. Alois dan Ciel memiliki sebuah hubungan gelap.
                                                                        ***
Pukul 21.00, My Bedroom
Hari sudah gelap. Alois dan kepala pelayannya, kini sudah pulang kembali ke kediamannya. Aku berbaring di atas tempat tidurku. Aku memejamkan mataku, tapi, tetap saja tidak bisa tertidur. Sebuah perasaan aneh melayang-layang di pikiranku. Perasaan baru yang membawaku semakin bingung. Ciel dan Alois adalah pribadi yang sangat berbeda – bahkan bertolak belakang. Tapi, entah mengapa, aku merasa kalau Ciel dan Alois saling terhubung. Mereka seperti memiliki hubungan yang sangat dekat, tapi, tidak bisa dimengerti. Sebuah hubungan gelap. Aku bingung, sangat bingung. Aku tidak tahu apa maksud perasaan ini, dan aku harus tahu. Aku akan mencari tahu, hubungan apa yang terjalin antara Ciel dan Alois. Sebuah hubungan yang mengganggu perasaanku.
Aku bangkit lalu duduk di atas tempat tidurku. Aku tidak bisa tidur. Dengan langkah pelan dan lesu, aku berjalan ke jendela kamarku. Ke sebuah jendela yang menampilkan panorama luar biasa. Panorama yang selama ini terlewatkan. Panorama langit malam.
Bintang-bintang bertaburan. Bulan bersinar diantara terangnya cahaya bintang. Sungguh, suatu ketenangan yang sudah kunantikan sejak lama. Ketenangan yang bisa membuatku beristirahat dari kisah hidup ini. Ketenangan yang bisa membuatku relaks. Dan sepertinya, bintang-bintang itu mencerminkan semua emosiku. Emosi dan perasaan yang tak terlampiaskan. Begitu banyak, begitu berat. Dan semua emosi itu tidak bisa keluar dari bibir mungil ini. Akhirnya, emosi itu tetap tinggal di hatiku. Tertanam dan tubuh subur di dalam hatiku. 
“Meaw!!” suara seekor kucing di sebelahku membuatku terkejut. Aku baru tersadar kucing hitam itu sudah sejak tadi berada di sampingku.
            “Kucing yang manis,” ucapku sambil membelai tubuh kucing itu. Bulunya yang berwarna hitam, membuatku kembali teringat tentangnya.

Komentar