Chapter 2 - Hari Pertama Tanpa Ciel


The New Me
Chapter 2 – Hari Pertama Tanpa Ciel

            “Lizzy, ayo, kita pulang!” suara ibuku terdengar dari belakangku. Hebat, suara ibuku sama sekali tidak terdengar kalau ia sedang kehilangan. Ya, itu memang karena dia terlalu “galak”. Ciel bahkan tidak suka pada ibu karena ke-“galakannya” itu.
“Iya, ibu! Aku datang!” aku menjawab tanpa berbalik. Aku menaruh setangkai bunga mawar putih di atas batu nisan itu. Bunga mawar putih itu tetap bersinar, meskipun aku tahu, hati bunga itu hitam pekat.
Aku berbalik, lalu melangkah perlahan. Berjalan meninggalkan bayangan bunga mawar itu di belakangku. Aku menunduk, dan memang itu yang seharusnya aku lakukan. Menunduk, merenung, dan terdiam. Memikirkan segala sesuatu tentang tunanganku. Aku tidak tahu di mana jiwanya berada saat ini. Apakah di neraka? Atau, masih berkeliaran di dunia ini? Aku tidak tahu, dan aku harus tahu. Aku mencintainya, dan menginginkan semua yang terbaik untuknya.
Kakakku memperhatikanku. Ia berdiri terpaku di depan batu nisan itu. Dari raut wajahnya, ia tampak sedih. Tapi aku tahu, sebenarnya ia sangat senang dengan semua kejadian ini. Ia senang tidak melihat Ciel lagi. Dan ia senang, karena tahu Ciel tidak ada lagi di dunia ini. Aku tahu semua perasaan kakakku terhadap Ciel, Ciel bahkan juga sudah tahu. Kakakku tidak ingin aku dan Ciel bertunangan. Ia pikir, diriku yang imut dan lucu tidak cocok dengan pribadi Ciel yang dingin dan arogan. Menurutnya, semua mimpinya itu terkabul. Aku dan Ciel tidak akan pernah bertemu. Dan aku, akan memastikan semua itu tidak akan terjadi. Aku harus memastikan kalau Ciel dan aku akan tetap bersama, tidak terpisahkan.
“Ayo, sayang!” ucap ibuku sambil menepuk pundakku dengan lembut. “Edward…” ibu memanggil kakakku untuk mendekat. Kakakku memperhatikan batu nisan itu sesaat, lalu melangkah mendekati ibu dan aku.
 Aku, ibu, kakak, dan Paula, berjalan bersama menuju kereta kuda yang telah menanti di depan mansion itu. Dengan langkah perlahan dan lemah, aku menaiki kereta kuda itu. Paula dan aku berada di kereta kuda yang sama, sedangkan kakak, ibu, dan ayah, di kereta kuda yang lain. Dan tak lama kemudian, kedua kereta kuda tersebut melaju. Membawa kami kembali ke sebuah kediaman megah. Kediaman megah, yang juga menyimpan kehangatan keluarga.
****
“I’m sorry, my lady! Bukankah sebaiknya, anda menangis saat ini? Tidak baik untuk memendam perasaan sedih di dalam hati. Itu akan membuat pikiran kita terganggu,” ucap Paula dengan ragu sambil duduk di kereta kuda.
“Tidak apa-apa, Paula. Menangis hanya membuat emosi semakin meningkat, bukan menguranginya. Lagipula, aku tidak memendam perasaan sedih di dalam hati. Aku hanya menyimpannya, itu saja. Kurasa, dengan menyimpan perasaan sedih ini, aku jadi bisa merasakan kehadirannya di setiap kegiatanku. Maka dari itu, aku tidak akan membiarkan perasaan itu pergi dariku. Apalagi melalui tangisan. Aku tidak akan pernah membiarkannya,” jawabku panjang lebar. Paula terdiam. Ia tentu tersentak dengan ucapanku barusan.
“Heeeh??” hanya itu yang berhasil keluar dari bibir Paula. “Baiklah, ayo, kita bernyanyi!! Jingle! Jingle!” lanjutnya, yang disahut dengan bunyi gemerincing.
“Terima kasih, Paula. Tapi sepertinya, perasaan itu juga akan pergi melalui nyanyian,” jawabku pelan sambil menunduk.
“Heeeh??” suara itu kembali keluar dari bibir Paula. “Ternyata, my lady sudah berubah, ya?” bisik Paula bergumam sendiri. Aku yang tak sengaja mendengarnya, hanya terdiam dan memandang langit.
                                                                        ****
Pukul 09.00, Midford Manor
“Selamat pagi, young lady!” suara itu bergema di kamarku. Aku membuka mataku perlahan. Paula tersenyum ramah di sebelah ranjangku. Aku bangun lalu duduk di atas kasur.
“Selamat pagi, Paula!” aku menjawab sapaan Paula dengan suara lemah. Aku melihat kesekeliling ruangan. Tidak ada yang berubah.
“Apa kegiatan hari ini, Paula?” tanyaku pelan. Jujur saja, aku telah melupakan semua kegiatanku saat tidur.
“I’m sorry, my lady. Tapi, Madam Frances menyuruhku untuk membatalkan semua kegiatan anda hari ini. Jadi hari ini, anda bisa beristirahat sejenak. Dan, mungkin, anda perlu sedikit meditasi,” jawab Paula ragu-ragu.
“Paula, tolong sebutkan kegiatan kita hari ini!” ulangku dengan nada setengah emosi.
“Ya, ya… Seharusnya, hari ini ada latihan pedang dengan Madam Frances,” jawab Paula sedikit tergagap.
“Baiklah. Terima kasih, Paula!” jawabku pelan. Aku langsung berdiri, lalu berjalan sambil menunduk. Paula hanya berdiri terpaku mengamati setiap tingkah lakuku.
                                                                        ****
Pukul 09.30, Dining Room
Aku duduk di ruang makan bersama ibu, kakak, dan ayahku. Berbagai makanan lezat sudah bebaris rapi di atas meja makan. Aku duduk, terdiam, termangu, memegangi garpu dan sendok makan. Semangkuk soup hangat sudah menunggu untuk dilahap. Tapi entah mengapa, aku tidak mau makan. Aku masih terus memikirkan Ciel. Di mana ia sekarang?
“Dik, kok, lesu begitu? Ayo, dimakan soup-nya!” ucap kakakku memecah semua khayalanku. Aku yang mendengarnya, hanya berkedip sesaat.
“Lizzy, ayo, dong, dimakan! Nanti kamu sakit, nak!” sambung ibuku. Tapi kali ini, nadanya lebih serius.
“Baik,” jawabku singkat dan lesu. Dengan wajah murung, aku melahap satu suapan kecil.
“Sayang, ayah tahu kamu pasti sedih. Tapi, kamu harus tetap kuat, sayang! Kamu harus lebih bersemangat menjalani hari-harimu. Kamu harus bisa tersenyum. Kamu harus tunjukkan kepada Ciel kalau kamu memang anak yang kuat,” nasihat ayahku menggema di ruang makan. Aku tetap diam – berusaha menikmati sarapanku.
“Sayang, hari ini ibu membatalkan semua jadwal latihanmu. Ibu tahu, kamu lelah dan sedih, dan menurut ibu, kamu pantas mendapatkannya….”
“Tidak! Ibu tidak boleh membatalkan semua jadwal latihanku. Aku perlu semua latihan itu, bu! Aku tidak bisa membatalkannya!” sambarku cepat. Entah apa yang tengah aku pikirkan, tapi, aku tak bisa mengambil Ciel kembali tanpa semua keahlian pedangku.
“Sayang….” gumam ibu pelan. Aku tidak menyangka, ibu ternyata bisa berbicara lembut.
“Okay, nak! Nanti, akan ibu bicarakan lagi!” sahut ayahku menutup. Aku menutup mulutku rapat-rapat, menunduk, dan kembali melahap makananku perlahan-lahan. Ya, kurasa hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini.
                                                                        ****
Pukul 10.00, Garden
 Aku memakai sebuah topi kuning. Kedua tanganku sudah tertutupi dengan sarung tangan. Bibit bunga mawar putih itu menghiasi telapak tanganku. Aku memasukkan bibit itu dengan perlahan-lahan ke polybag. Akhirnya, tanaman kecil itu kini menghiasi halaman rumahku.
 “Wah, young lady memang hebat! Tak lama lagi, bibit itu pasti akan tumbuh besar dan subur,” sahut Paula dari belakangku. Kedua tangannya memegang sebuah keranjang yang berisi berbagai jenis sayur dan buah.
“Panennya banyak, ya!” sahutku sambil tersenyum ramah.
“Ya, begitulah. Sudah, kalau begitu, saya mau menaruh ini dulu! Young lady ingin dibawakan apa?” tanya Paula dengan wajah yang lebih ramah.
“Mungkin, sesuatu yang dingin enak untuk disantap!” jawabku yang masih tersenyum ramah.
“Baiklah! Kalau begitu, akan saya bawakan Strawberry Juice, ya!” ucap Paula dan segera meninggalkanku.
“Hmm… Paula!” sahutku agak kencang. Paula berbalik dengan tatapan bingung. “Jangan lupa cemilannya!” lanjutku sambil mengedipkan sebelah mataku.
“Baiklah, young lady!” sahut Paula dengan semangat penuh. Ia lalu kembali berjalan dengan raut wajah senang.
Ya, mungkin ini agak aneh bagiku. Senyuman ini, senyuman yang sangat amat palsu ini, kini berhasil bertengger di wajahku. Nasihat ayahku ada benarnya juga. Aku harus bisa tersenyum. Aku harus bisa kuat. Karena kalau aku tidak kuat, aku tidak akan bisa berfikir bagaimana cara merebut Ciel kembali. Ya, lagipula, aku harus bisa lebih dewasa. Aku harus bisa menempatkan senyumanku. Aku pasti bisa, menjadi seperti Ciel.
****
Pukul 12.00, Dining Room
Tepat tengah hari, aku dan seluruh keluargaku kembali berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan siang. Aku melangkah perlahan menuju ruang makan, tapi, tanpa senyuman. Aku duduk, menunduk, dan terdiam – sama seperti tadi pagi. Aku kembali memegang garpu, tapi kali ini ditemani pisau makan. Sepotong steak sudah menunggu untuk dinikmati.
“Steak ini enak,” ujarku dingin.
“Terima kasih, young lady! Steak ini dimasak khusus untuk anda!” jawab Paula dengan senyuman ramah.
“Lizzy, senyum dikit, dong! Kamu, kok, tidak bersemangat begitu?” tanya kakakku. Sepertinya, ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Aku hanya memandang wajah kakakku sebentar, lalu kembali menikmati makan siangku.
“Lizzy, pakai sausnya, nih! Gak enak kalau gak pakai saus!” sahut ayahku sambil menjulurkan sebotol saus padaku.
“Terima kasih, ayah! Tapi, aku ingin merasakan rasa asli dari steak ini,” jawabku dengan nada dingin. Ayah terdiam, terpaku melihat tingkah lakuku.
“Oh, begitu,” katanya sambil menaruh botol itu ke tempat semula.
Aku kembali melahap makananku perlahan, diiringi dengan nyanyian cepat. Nyanyian yang berderu. Nyanyian yang begitu bersemangat. Nyanyian yang terus memanggilku untuk segera menepati janjiku. Aku bisa mendengar nyanyian itu – aku bisa merasakannya. Sebuah nyanyian untuk Ciel. Hanya untuk aku dan Ciel.
                                                                        ****
Pukul 14.00, Hall Room
Ibuku berdiri gagah. Satu bilah tiruan pedang menghiasi tangan kanannya. Ia berdiri dengan tatapan tajam. Tatapan mematikan yang berhasil membuat Ciel ketakutan. Ia berdiri dengan kuda-kuda. Ia berdiri dan siap menerjangku.
Aku berdiri tegap. Dengan perlahan, aku memakai pelindung kepalaku. Aku lalu mengambil pedangku, dan memegangnya dengan erat. Aku berdiri sambil menyiapkan kuda-kuda. Aku terdiam, menatap tajam mata ibuku sendiri – begitupun sebaliknya. Dan beberapa detik lagi, pertarungan sengit antara ibu dan anak akan segera meledak.
Cling! Cling! Cling! Suara pedangku dan ibuku terdengar nyaring. Kami berdua melompat-lompat mengikuti senandung yang terdengar begitu kuat. Senandung semangat kami masing-masing, terdengar sangat merdu dan indah. Senandung itu sangat terasa dengan kehadiran irama pedang, langkah kaki, dan detak jantung kami.
Sret… Cling!!! Ujung pedangku hampir menusuk mata ibuku. Aku berhenti, terpaku karena kelakuanku sendiri. Aku bisa mendengar nafas ibuku yang terengah-engah, sama sepertiku.
“Seperti biasa, sayang! Kamu selalu hebat!” ucap ibuku dengan nada yang sama seperti biasanya. Angkuh. Aku yang baru tersadar dari lamunan, segera mengembalikan pedangku kembali ke tempat semula.
“Apakah benar, aku sama seperti biasanya?” tanyaku pelan sambil melepas ‘kostum’ yang kupakai.
“Ya, begitulah!” jawab ibuku singkat sambil ikut melepas ‘kostum’-nya.
“Payah, tidak ada peningkatan!” bisikku pada diriku sendiri.
“Heh?!” kata itu terucap oleh ibu. Ia tidak mendengar dengan jelas apa yang kukatakan. “Ada apa, Lizzy?” tanyanya  memintaku mengulang kembali ucapanku.
“Tidak ada apa-apa, bu!” sahutku memberikan kepastian kepada ibuku.
“Oh. Ibu kira, kamu mengucapkan sesuatu,” jawab ibu. Aku hanya terdiam, tidak ingin mengomentari jawaban ibuku.
                                                                        ****
Pukul 19.00, Hall Room
Setelah makan malam, aku berjalan perlahan ke Hall Room. Entah alasan apa yang ada di benak kakakku, tapi ia mengajakku pergi ke Hall Room – hanya ke Hall Room. Dengan langkah pelan namun tegas, aku melangkah menuju Hall Room.
Sesampainya di Hall Room, aku melihat kakakku berdiri di sebelah phonograph. Alunan musik dari piringan hitam itu terdengar syahdu. Alunan musik yang pernah aku dengar sebelumnya. Alunan musik yang mengantar kepergiannya dariku. Alunan musik yang mengiringi aku dan Ciel berdansa.
“Welcome, my lady!” ucap kakakku dengan santun. Ia mendekat ke arahku dengan langkah gagah. Sesampainya di dekatku, ia meraih telapak tanganku lalu menciumnya. “Apakah anda bersedia untuk berdansa dengan saya?” ucapnya dengan arogan. Aku terdiam, tersentak melihat semua tingkahnya.
“Ya,” aku langsung menjawab. Kakakku tersenyum ramah.
Ia menarik tanganku dengan tangan kirinya, lalu meletakkan tangan kanannya di pinggulku. Ia dan aku lalu berputar-putar mengikuti irama lagu. Irama lagu yang merdu dan indah. Irama lagu yang kembali mengingatkanku akan semua kenangan tentangnya. Tentang Ciel.
 Sret… Kakakku menarikku lebih dekat ke arahnya. Kini, kami berdua sangat dekat, bahkan hampir berpelukan. Aku menyandarkan kepalaku di dada kakakku. Sudah lama kami berdua berjauh-jauhan. Ini bisa membayar semua rasa rinduku pada kakakku.
“Lizzy, kenapa kamu tidak melupakan anak itu saja?” tanyanya sambil berbisik. Aku yang mendengarnya, segera memandang wajah kakakku sungguh-sungguh.
“Kenapa, Lizzy? Kenapa kamu lebih memilih bersamanya?” tanya kakakku lagi. Aku tercengang mendengar itu semua. 
“Kenapa kamu mau dijodohkan dengannya, Lizzy! Dia tidak ada apa-apanya! Dia hanya seorang bocah kecil yang tidak bisa apa-apa. Dia menutupi semua kelemahannya dengan semua arogansinya. Dia tidak sebanding denganmu, Lizzy! Dia payah! Tidak berbakat! Kamu tidak seharusnya bersamanya! Dia tidak baik untuk masa depanmu! Dan kalian tidak pantas bersatu! Kalian tidak cocok! Kalian tidak bisa disatukan! Dan sekarang, semua itu terjadi. Baguslah, dia pergi dari kehidupanmu! Dia pantas mendapatkannya! Dia memang harus pergi! Dia hanya pengganggu di hidupmu! Dia memang HARUS PERGI! Dia……….”
PLAK!!! Aku menampar pipi kakakku dengan sangat keras, bahkan meninggalkan bekas merah di pipinya. Aku marah, benar-benar marah. Berani-beraninya kakakku mengatakan semua itu! Dihadapanku!
“Aku tidak akan pernah membiarkan kakak berbicara seenaknya seperti itu! Akan kupastikan itu!” aku membentak-bentak kakak kandungku sendiri. Kakakku berdiri terpaku. Ia tidak menyangka kalau aku akan melakukan semua hal itu.
Dengan kecepatan tinggi, aku berlari meninggalkan kakakku. Kakiku melangkah tanpa ketepatan  irama. Setiap langkah kakiku hanya berisi kesedihan, kesedihan, dan kesedihan. Aku berlari menuju kamarku. Aku menutup pintunya dengan kasar, dan menguncinya. Aku menjatuhkan diriku ke kasur – membenamkan kepalaku di bantal. Segala emosi yang melingkupi tubuhku, kini makin merasuk ke dalam darah dan daging. Entah kenapa, bantalku basah! Ternyata, air mataku sudah mengalir sangat deras. Air mata yang penuh kesedihan. Air mata yang penuh dengan kesakitan. Air mata yang menyimpan kisah hitam.

Komentar